PENGARUH WIRAUSAHA TERHADAP PENGEMBANGAN KARIR INDIVIDU PADA DISTRIBUTOR MULTI LEVEL MARKETING “ ABC “ DI KOTA XXX

Posted in Senin, 19 Maret 2012
by contoh-skripsi.com

CONTOH SKRIPSI/ CONTOH TESIS ADMINISTRASI NIAGA


ABSTRAK

Pengangguran merupakan masalah ketenagakerjaan yang patut mendapat
perhatian pemerintah. Lapangan kerja yang terbatas membuat orang mencari jalan
untuk berusaha agar tetap hidup layak di masyakakat. Berwirausaha merupakan
salah satu jalan keluarnya. Wirausaha adalah orang yang memiliki dan mengelola
serta melembagakan usahanya .
Dalam proses mengelola usaha, aspek-aspek yang menjadi katalisator,
yang menyebabkan seseorang menentukan karirnya sebagai wirausaha. Hal- hal
yang mendorong seseorang memilih karir sebagai wirausaha, dapat diketahui
melalui penilaian kepribadian khususnya pengalaman dan latar belakangnya.
Biografi seseorang dapat bermanfaat untuk melihat keterampilan dan kompetensi
untuk meningkatkan kewirausahaan, pengembangan nilai- nilai kewirausahaan
dan pendorong untuk mencetuskan ide- ide wirausaha..
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui Pengaruh Wirausaha Terhadap
Pengembangan Karir Individu Pada Distributor Multilevel Marketing “X” di
Malang. Wirausaha dalam hal ini adalah semangat yang ada pada distributor
MLM yang meliputi Kreatif, Inovatif, dan Berani. Karir dalam dalam hal ini
adalah urutan aktifitas yang berkaitan dengan pekerjaan dan perilaku- perilaku,
nilai-nilai, dan aspirasi seseorang selama rentang hidup orang tersebut. Sedangkan
Pengembangan karir adalah suatu kondisi yang menunjukkan adanya peningkatan
jenjang atau status seseoarng dalam pekerjaanya.
Berdasarkan latar belakang tersebut maka dapat dijelaskan bahwa
Pengembangan Karir (Y) seorang distributor MLM dipengaruhi oleh 2 faktor,
yaitu faktor Internal dan faktor Eksternal. Faktor internal yang ada dalam
wirausaha terbagi menjadi 3 komponen, Kreatif (Xý), Inovatif (X2), Berani (Xç).
Adapun keluarga, ekonomi, dan sosial budaya termasuk faktor ekternal yang ikut
mempengaruhi namun tidak diteliti. Variabel Xý, X2, Xç adal ah variabel yang
tidak saling berhubungan, namun secara bersama-sama memiliki pengaruh
terhadap Pengembangan Karir.
Jenis peneilitian ini merupakan penelitian observasional analitik. Populasi
penelitian adalah distributor MLM “X” yang ada di Malang, adapun sampel yang
diambil sejumlah 96 orang distributor yang aktif dengan mengunakan metode
porposive sampling. Sedangkan angket yang disebarkan sejumlah 120 dengan
pertanyaan tertutup dengan mengunakan skala likert. Pengelolaan data dan
analisis data mengunakan bantuan program SPSS 10 yaitu model Analisis Regresi
Logistik.
Hasil uji silang yang beroientasi pengembangan karir sebanyak 59 orang ,
yang tidak berorientsi karir sebanyak 37 orang. Hasil uji signifikan sebesar 0,001
berarti ada pengaruh wirausaha terhadap pengembangan karir . Adapun masing –
masing variabel memiliki nilai sebagai berikut : Kreatif berpengaruh terhadap
pengembangan karir dengan tingkat signifikan 0,004 < Ü 0,05. Variabel Inovatif
tidak berpengaruh terhadap pengembangan karir karena memiliki signifikan yang
diperoleh 0,677 > Ü 0,05. Variabel Berani merupakan yang dominan berpengaruh
terhadap pengembangan karir dengan nilai signifikan 0,001 Ü 0,05.

BAB 1
PENDAHULUAN
I.I. Latar Belakang
Krisis multidimensional yang melanda bangsa Indonesia sejak tahun 1996 tidak
saja melumpuhkan dunia usaha, tetapi juga menggoyahkan sendi-sendi kesejahteraan
masyarakat luas. Dunia kerja menjadi kian sempit, sementara masyarakat yang
membutuhkan kerja terus meningkat. Adanya penganguran dalam anggota keluarga
berarti masalah bagi anggota keluarga yang lain. Sebab, mereka terpaksa menanggung
beban hidup anggota keluarga yang menganggur. Secara luas, ini juga berarti
pengangguran yang disebabkan ketiadaan lapangan kerja akhirnya menjadi beban
tanggungan masyarakat juga. Pengangguran ini bukanlah hasil sebuah pilihan untuk tidak
bekerja, tetapi akibat dari semakin sulitnya mendapatkan pekerjaan, terutama dikota-kota
besar.
Masyarakat yang tinggal di perkotaan sering mengharapkan mendapat pekerjaan
formal di kantor-kantor, baik pemerintah maupun swasta. Namun, justru sektor seperti
itulah yang pada masa –masa ini paling merasakan dampak krisis ekonomi yang
berkepanjangan. Konsekwensinya adalah efisiensi tenaga kerja dengan sedikit menyerap
tenaga kerja baru.
Pada tahun 1996 tingkat pengangguran masih 4,9 persen, dua tahun setelah krisis
naik menjadi 6,3 persen, lalu naik lagi menjadi 8,1 persen pada tahun 2001. Setahun
kemudian angka pengangguran merangkak naik menjadi 9,1 persen yang berarti jumlah
penganggur telah lebih dari 10 juta orang atau 9,9 persen dari angkatan kerja. Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) juga memperkirakan pada tahun 2004
jumlah angkatan kerja akan mencapai 102,88 juta orang, termasuk angkatan kerja baru
2,10 juta orang (Sukernas-BPS 2002).
Penciptaan lapangan kerja yang tak mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan
kerja baru itu menyebabkan angka pengangguran terbuka tahun 2004 meningkat menjadi
10,88 juta orang (10,32 persen dari angkatan kerja), dari tahun sebelumnya 10,13 juta
orang (9,85 persen dari angkatan kerja). Terjadinya over-supply tenaga yang tidak
diimbangi oleh demand yang memenuhi standar. Sementara tuntutan kualitas sumber
daya manusia makin lama makin tinggi dan menuntut kekhususan yang lebih sulit lagi
untuk dipenuhi. Dengan melihat kondisi tersebut maka sektot informal merupakan
alternatif dapat membantu menyerap orang –orang yang menganggur, tetapi kreatif dan
menjadi peredam di tengah pasar global.
Lapangan kerja yang terbatas membuat orang mencari jalan untuk bertahan hidup
agar dapat hidup layak. Oleh karena itu untuk menumbuhkan perilaku wirausaha pada
masyarakat luas khususnya para pencari kerja akan sangat penting dan strategis bagi
pengembangan sumber daya manusia Indonesia yang bermutu, memiliki kejelian dalam
menciptakan peluang usaha sendiri yang kreatif dan tetap proaktif mengembangkan usaha
tanpa meninggalkan potensi lokal dalam menghadapi pasar global.
Berwirausaha merupakan satu alternatif jalan keluar terbaik. Wirausaha adalah
orang yang memiliki dan mengelola serta menjalankan usahanya. Wirausaha
didefinisikan sebagai orang yang memiliki gagasan (idea man) dan manusia kerja (man
of action) sering dikaitkan orang yang inovatif atau kreatif (Holt, 1992:85). Orang yang
mendorong perubahan sangat penting dalam menemukan kemungkinan-kemungkinan
baru. Wirausaha adalah orang yang suka mengambil resiko dan mampu mengembangkan
kreatifitasnya.
Terdapat berbagai macam penggolongan mengenai wirausaha. Gartner (1988:
268) menggolongkan tipe kewirausahaan berdasarkan bagaimana aktifitas
kewirausahaan yang dilaksanakan. Ada 8 tipe, yaitu (1) pelarian terhadap sesuatu yang
baru, (2) membuat berbagai jaringan (network) dalam transaksinya, (3) trsanfer
keterampilan yang diperoleh dari situasi pekerjaan terdahulu, (4) membeli perusahaan,
(5) mengungkit keahlian, (6) mengamalkan pelatihan dan memproduksi produk, (7)
mengejar ide yang unik, dan (8) aktifitas bisnis yang berbeda dari pengalaman
sebelumnya.

Schermerhorn (1996:125) mengatakan terdapat ciri-ciri khas yang dikaitkan
dengan seorang wirausaha (entrepreneur) yaitu mampu menentukan nasipnya sendiri,
pekerja keras dalam mencapai keberhasilan, selalu tergerak untuk bertindak secara
pribadi dalam mewujudkan tujuan menantang, memiliki toleransi terhadap situasi yang
tidak menentu, cerdas dan percaya diri dalam mengunakan waktu yang luang.
Salah satu bentuk wirausaha yang dapat menjawab permasalahan di atas adalah
berusaha sendiri sebagai distributor Multilevel Marketing (MLM). Konsep MLM
merupakan salah satu metode pemasaran dengan membuat jaringan (network).
Distributor MLM dalam menjalankan strategi pemasaran secara bertingkatbdituntut
memiliki kejelian berimprovisasi untuk mempengaruhi orang lain agar mau bergabung
bersama-sama dalam menjalankan usaha MLM.

Sama halnya seperti cara berdagang yang lain, strategi MLM harus memenuhi
rukun jual beli serta akhlak (etika) yang baik, di samping itu komoditas yang dijual harus
halal (bukan haram maupun syubhat), memenuhi kualitas dan bermanfaat. MLM tidak
boleh memperjual belikan produk yang tidak jelas status halalnya. Atau menggunakan
modus penawaran produksi promosi tanpa mengindahkan norma-norma agama dan
kesusilaan.

Secara kondusif Islam memberikan jalan bagi manusia untuk melakukan berbagai
improvisasi dan inovasi mengenai sistem, teknik dan mediasi dalam melakukan
perdagangan. Karena sistem MLM dinilai oleh Islam memiliki unsur-unsur silaturrahmi,
dakwah, dan tarbiyah, sebagaimana sistem tersebut pernah digunakan Rasulullah dalam
melakukan dakwah pada awal-awal diangkat sebagai ulil amri. Dakwah Islam pada saat
itu dilakukan melalui teori gethok tular (mulut ke mulut) dari sahabat satu ke sahabat
yang lainnya. Sampai pada satu ketika Islam dapat diterima oleh masyarakat.
Sebagaimana disebutkan dalam (QS Ar Ra’d: 11) “ Sesungguhnya Allah tidak mengubah
keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka
sendiri “.

Perusahaan MLM biasa memberi reward atau insentif pada mereka yang
berprestasi. Islam bisa membenarkan seseorang mendapatkan insentif lebih besar dari
yang lainnya disebabkan keberhasilannya dalam memenuhi target penjualan tertentu, dan
melakukan berbagai upaya positif dalam memperluas jaringannya. Kaidah ushul fiqh
mengatakan, "Besarnya ijrah (upah) itu tergantung pada kadar kesulitan dan pada kadar
kesunguhan ". Penghargaan kepada distributor yang mengembangkan jaringan di
bawahnya (down line) dengan cara bersungguh-sungguh, memberikan pembinaan
(tarbiyah), pengawasan serta keteladanan prestasi (uswah) memang patut dilakukan,
karena ini selaras dengan sabda Rasulullah:

"Barang siapa di dalam Islam berbuat suatu kebajikan maka kepadanya diberi pahala,
serta pahala dari orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun..."(hadist).
Penting disadari, pemberian penghargaan dan cara menyampaikan hendaknya
tetap dalam koridor tasyakur, untuk menghindarkan penerimanya dari takabur, kufur
nikmat, apalagi melupakan Tuhan. Perusahaan MLM harus membuat kebijakan
sedemikian rupa agar penghargaan itu memberi manfaat positif bagi penerimanya.
Dalam hal menetapkan insentif ini, sejumlah syarat syariah harus dipenuhi, yakni: adil,
terbuka, dan insentif seorang distributor tidak mengurangi hak distributor lain (mitra
kerja), sehingga tidak ada yang dizalimi.

Kewajaran dalam memperoleh keuntungan juga merupakan suatu masalah yang
diperhatikan oleh Islam. Dalam kaitan ini sebagian masyarakat melihat, ada
kecenderungan pada perusahaan MLM tertentu yang menjual produk dengan harga
sangat mahal karena menganggap produknya eksklusif. Ini jelas akan memberatkan
konsumen. Hal ini sepatutnya dihindari karena ini bisa dikatakan sebagai mengambil
keuntungan secara batil. Prinsipnya kita memang bisa merasakan MLM ini sebagai satu
strategi yang memberikan peluang usaha (rezeki).

Menurut Asosiasi Penjual Langsung Indonesia (APLI) di Indonesia saat ini
sekitar 70 perusahaan MLM, seperti Central Nusa Insan Cemerlang atau CNI, Amway,
Foreverindo Insanabadi atau Forever Young, Herbalife merupakan suatu konsep
pendistribusian produk langsung kepada konsumen melalui distributor mandiri.
Keunggulan bisnis ini adalah modal kecil dengan peluang yang besar, masa depan
ditentukan oleh distributor itu sendiri, tidak ada resiko kredit macet, jam kerja bebas,
dapat mencapai impian lebih awal. MLM merupakan suatu metode penjualan barang
secara langsung kepada pelanggan melalui jaringan yang dikembangkan oleh distributor
secara berantai dan berjenjang. Setiap distributor merekrut atau mensponsori orang lain
disebut mitra kerja (downline) yang selalu dikaitkan dengan bonus dan komisi.
Setiap perusahaan MLM memiliki metode perhitungan sendiri. Tenaga penjual atau
distributor MLM adalah pengusaha mandiri yang mendapat penghasilan dari aktifitasnya
penjualan produk dan menjaring mitra kerja (downline). Cara kerja pengusaha MLM
dilakukan tanpa jam kerja yang teratur seperti pada sebuah kantor. Banyak dari mereka
melakukan di luar jam kerja untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Dalam banyak kasus, seorang distributor mempunyai pendapatan yang tidak kecil,
bahkan melebihi pendapatan dari pekerjaan formalnya. Karena itu, banyak orang tertarik
untuk bergabung menjalankan model bisnis ini. Semakin banyak mitra kerja (downline)
yang direkrut atau semakin besar jaringan yang dibangun maka semakin besar bonus
yang akan diterima oleh distributor. Jadi apabila distributor benar-benar bekerja keras,
maka bonus yang diperoleh bisa sampai puluhan bahkan ratusan juta per bulan.
Sebagaimana dalam rangking 10 profesi termahal di Indonesia, distributor MLM
menempati posisi pertama dengan pendapatan tertinggi yang diperoleh pengusaha
(distributor) MLM sebesar Rp 280.940.284,- per bulan. (Warta Ekonomi edisi 26 Maret
2001).

MLM merupakan cara berbisnis yang sah, etis, sukses, dan senantiasa
berkembang dimana setiap distributor dapat memperoleh hasil banyak atau sedikit
sebagaimana dikehendakinya, dengan sedikit resiko finansial, selama 6 atau 60 jam
seminggunya. Di Amerika konsep tersebut telah dikembangkan jauh lebih luas selama
berpuluh-puluh tahun, hampir setiap barang dan jasa dapat diperoleh melalui MLM.
Ini merupakan bisnis multinasional, menyangkut jutaan dollar, dan melibatkan jutaan
orang. Konsep MLM pertama kali dicetuskan oleh Nutrilite di AS pada tahun 1939,
menerapkan sistem bonus sebesar 2 % kepada setiap penjual yang berhasil merekrut
penjual baru ( Harefa, 1999:14).

Koen Verheyen, mantan anggota tim manajemen Oriflame, mengatakan bahwa
sampai November 1999 perusahaan yang melakukan penjualan langsung yang tercatat
sebagai anggota APLI hanya 28 dari 180 perusahaan. Dari jumlah tersebut, sampai
Desember 1997 sekitar 1.400.000 orang tergabung dalam jaringan perusahaan MLM
anggota APLI. Total penjualan yang tercatat oleh APLI akhir tahun 1997 berkisar Rp
700 milyar, suatu jumlah yang tidak kecil. Sementara yang tidak tergabung membukukan
penjualan Rp 800 milyar, sehingga total penjualan yang dilakukan oleh perusahaan MLM
sekitar Rp 1,5 triliyun. Sekitar 40 % dari omset tersebut merupakan pendapatan
perusahaan dan 60 % merupakan pendapatan distributor dalam bentuk keuntungan
eceran, komisi, bonus, dan lain-lain ( Harefa,1999: 17)
Berdasarkan penjelasan diatas, maka perlu untuk menganalisis lebih mendalam
suatu penelitian tentang “ Pengaruh Wirausaha Terhadap Pengembangan Karir Individu.
Pada Distributor MLM “.

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan di atas, maka
dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :

Masalah Umum :
Apakah ada pengaruh wirausaha terhadap pengembangkan karir individu pada
distributor Multi Level Marketing ?

Masalah Khusus
1. Apakah ada pengaruh Kreatif terhadap pengembangan karir individu pada
distributor Multilevel Marketing ?
2. Apakah ada pengaruh Inovatif terhadap pengembangan karir individu pada
distributor Multilevel Marketing ?
3. Apakah ada pengaruh Berani terhadap pengembangan karir individu pada
distributor Multilevel Marketing ?
4. Variabel manakah di antara kreatif, inovatif, dan berani yang berpengaruh
dominan terhadap pengembangan karir individu pada distributor MLM


I.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini terbagi menjadi tujuan umum dan tujuan khusus, yaitu :

Tujuan Umum
Menganalisis pengaruh wirausaha terhadap pengembangan karir individu pada
distributor MLM.

Tujuan Khusus
1. Untuk menganalisis pengaruh Kreatif terhadap pengembangan karir individu
pada distributor Multilevel Marketing.
2. Untuk menganalisis pengaruh Inovatif terhadap pengembangan karir individu
pada distributor Multilevel Marketing.
3. Untuk menganalisis pengaruh Berani terhadap pengembangan karir individu
pada distributor Multilevel Marketing.
4. Untuk mengetahui variabel yang dominan di antara kreatif, inovatif, dan berani
berpengaruh terhadap pengembangan karir individu

I.4. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Sebagai informasi ilmiah mengenai pengembangan karir melalui MLM.
2. Memberikan gambaran mengenai manfaat MLM dalam membentuk jiwa
wirausaha.
3. Hasil penelitian ini bisa digunakan sebagai data untuk mengembangkan peran dan
fungsi MLM sebagai cara pengembangan karir.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Wirausaha
Kata wirausaha atau “pengusaha” diambil dari bahasa Perancis
“entrepreneur” yang pada mulanya berarti pemimpin musik atau pertunjukan
(Jhingan, 1999: 425). Dalam ekonomi, seorang pengusaha berarti orang yang
memiliki kemampuan untuk mendapatkan peluang secara berhasil. Pengusaha bisa
jadi seorang yang berpendidikan tinggi, terlatih dan terampil atau mungkin seorang
buta huruf yang memiliki keahlian yang tinggi di antara orang-orang yang tidak
demikian. Menurut Jhingan pengusaha mempunyai kreteria kualitas sebagai berikut,
(1) energik, banyak akal, siap siaga terhadap peluang baru, mampu menyesuaikan
diri terhadap kondisi yang berubah dan mau menanggung resiko dalam perubahan
dan perkembangan; (2) memperkenalkan perubahan tehnologi dan memperbaiki
kualitas produknya; (3) mengembangkan skala operasi dan melakukan persekutuan,
mengejar dan menginvestasikan kembali labanya. (Jhingan, 1999 : 426)
Ekonom Perancis, J.B. Say, menciptakan kata entrepreneur (wirausahawan)
sekitar tahun 1800 “ Wirausahawan menggeser sumber daya ekonomi dari bidang
produktifitas yang lebih rendah ke bidang yang lebih tinggi dan hasil yang lebih
besar” ( Armstrong, 2003 :149).

George Gilder dalam The Spirit of Enterprise, mengatakan “ Para
wirausahawan adalah para inovator yang membangkitkan permintaan.” Mereka
adalah pembuat pasar, pencipta modal, pengembang peluang dan penghasilan
tehnologi baru. Istilah kewirausahaan banyak dijumpai dalam uraian yang
merupakan kata dasar wirausaha yang berarti segala sesuatu yang berhubungan
dengan kata wirausaha.

Terdapat berbagai macam penggolongan mengenai wirausaha. Winarto
(2003), menggolongan dua kategori aktivitas kewirausahaan. Pertama, berwirausaha
karena melihat adanya peluang usaha (entrepreneur activity by opportunity). Kedua,
kewirausahaan karena terpaksa tidak ada alternatif lain untuk ke masa depan kecuali
dengan melakukan kegiatan usaha tertentu. Sehingga wirausaha dapat dipandang
dari (1) tujuan wirausaha, dan (2) proses berusaha. Dalam proses berusaha apakah
keputusan untuk berusaha berjalan lambat atau cepat, dan pada waktu masuk dalam
bisnis apakah ia sebagai pendiri, atau mendapat usaha dari proses membeli atau
melalui franchising atau, (3) konteks industri dan tehnologi, (4) struktur
kepemilikan, yaitu pemilik tunggal, kongsi, kelompok. Namun perlu diingat kewirausahaan itu bukan untuk sekedar menghasilkan uang, tetapi menghasilkan sesuatu yang diperlukan masyarakat yaitu gagasan inovatif, semangat untuk memberikan kontribusi positif bagi masyarakat

Seorang wirausaha adalah seseorang yang memiliki visi bisnis atau harapan
dan mengubahnya menjadi realita bisnis. Wirausaha adalah seorang pembuat
keputusan yang membantu terbentuknya sistem ekonomi perusahaan yang bebas.
Sebagian besar pendorong perubahan inovasi, dan kemajuan di perekonomian,
sehingga wiarausaha adalah orang-orang yang memiliki kemampuan untuk
mengambil resiko dan mempercepat pertumbuha ekonomi.
Wirausaha bukan karena memahami yang ada dalam semua
kompleksitasnya, tetapi dengan menciptakan situasi baru yang harus dicoba untuk
dipahami oleh orang lain. Para wirausahwan berada di dunia yang terakhir menjadi
yang pertama, tempat penawaran menciptakan permintaan, tempat keyakinan
mendahului pengetahuan

Kets De Vries (1997 : 268) mengolongkan wirausaha berdasarkan dari
lingkungan mereka berasal, yaitu :
a. Wirausaha craftsmans, berasal dari pekerja kasar dengan pengalaman dalam
tehnologi rendah, mekanik yang genius dan mempunyai reputasi dalam industri.
b. Wirausaha opportunistic, berasal dari golongan kelas menengah sampai Chief
Excecutives,
c. Wirausaha dengan bekal pengalaman tehnologi, ia memiliki pendidikan formal.
d. Kewirausahaan ditandai dengan keanekaragaman, yaitu adanya pergantian besar
pada masyarakat dan perusahaan yang berterminologi wirausaha.
Sehingga karakteristik khusus wirausaha dapat digolongkan menjadi :
a. Berorientasi pada tindakan, “Mereka melakukan, membetul kannya, mencoba”.
b. Memiliki kemampuan untuk menvisualisasikan langkah-langkah dari gagasan
sampai aktualisasi.
c. Menjadi pemikir dan pelaku, perencana dan pekerja.
d. Terlibat, menerapkan langsung
e. Dapat mentolerir ambiguitas
f. Menerima resiko tetapi memahami dan mengelolahnya
g. Mengatasi, bukan menghindari, kekeliruan, mereka tidak mengakui mereka di
kalahkan.
h. Memandang diri sendiri sebagai seorang yang bertanggung jawab atas nasib
mereka sendiri.
i. Percaya pada penciptaan pasar untuk gagasan mereka, bukan sekedar
menanggapi permintaan pasar yang ada.
Keberhasilan seorang wirausaha untuk mengembangkan bisnisnya
tergantung pada kecerdasan, imajinasi, dan kekuatan keinginan individu yang
bersangkutan. Sedikit keberuntungan diperlukan, tetapi dapat diargumentasikan
bahwa tidak ada keberuntungan mengubah visi menjadi realita lebih berupa kerja
keras, di samping imajinasi dan kemampuan yang mampu merubah karir individu
menjadi sukses. (Rachbini, 2001 :100)
Kaum entrepereneur (wirausaha) sangat besar artinya bagi kemajuan
perekonomian, para wirausaha mempunyai katalisator dan menunjang
perkembangan arus investasi sehingga ikut memperkuat pembangunan ekonomi
yang tengah berlangsung.
Dalam proses pembentukan wirausaha tersebut memerlukan
pengembangan sumber daya manusia, meliputi bagaimana orang melakukan
aktifitas wirausaha dalam hal ini distributor MLM, tujuan berwirausaha, proses
pengambilan keputusan terjun ke MLM. Di dalam MLM distributor disebut
knowledge walker, orang-orang ini selalu belajar dan belajar dengan cepat,
sehingga dapat bertahan dan maju dalam karirnya.
Pilihan menjadi wirausaha lewat MLM diperlukan kreativ, inovatif
keberanian mengambil resiko, mendorong perubahan dalam pengembangan karirnya.
( Riyanti D, 2002) Bird memberikan beberapa pendapat yakni pertama, dipandang
dari segi energi dan dorongan serta daya fisik yang kuat sehingga ingin berkarir
sebagai wirausaha ( distributor) MLM. Kedua, wirausaha (distributor), yang memulai
pada usia tua, tidak memiliki masa karier yang panjang sebagaimana orang muda,
walaupun mungkin lebih cepat berhasil karena faktor pengalaman. (Bird, 1989 : 271)

2.2. Pengertian Karir
Pengertian karir ditafsirkan beragam oleh para ahli sesuai disiplin
ilmunya. Menurut Simamora (2001:505) karir adalah “ Urutan ak tifitas-aktifitas yang
berkaitan dengan pekerjaan dan perilaku-perilaku, nilai-nilai, dan aspirasi seseorang
selama rentang hidup orang tersebut”. Perencanaan karir merupakan proses yang
disengaja di mana dengan melaluinya seseorang menjadi sadar akan atribut-atribut
yang berhubungan dengan karir personal dan serangkaian langkah sepanjang hidup
memberikan sumbangan pemenuhan karir.
Pendapat Ekaningrum (2002 : 256). Karir tidak lagi diartikan sebagai
adanya penghargaan institusional dengan meningkatkan kedudukan dalam hirarki
formal yang sudah ditetapkan dalam organisasi. Dalam paradigma tradisional,
pengembangan karir sering dianggap sinonim dengan persiapan untuk mobilitas ke
jenjang lebih tinggi, sehingga karir akan mendukung efektifitas individu dan
organisasi dalam mencapai tujuannya.
Menurut Dalil S (2002 : 277) “ karir merupakan suatu proses yang sengaja
diciptakan perusahaan untuk membantu karyawan agar membantu partisipasi
ditempat kerja. Sementara itu Glueck (1997 :134) menyatakan karir individual adalah
urutan pengalaman yang berkaitan dengan pekerjaan yang dialami seseorang selama
masa kerjanya. Sehingga karir individu melibatkan rangkaian pilihan dari berbagai
kesempatan, tapi dari sudut pandang organisasi karir merupakan proses regenerasi
tugas yang baru.
Sedangkan pendapat Ekaningrum (2002:258) karir digunakan untuk
menjelaskan orang-orang pada masing-masing peran atau status. Karir adalah semua
jabatan (pekerjaan) yang mempunyai tanggung jawab individu.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa karir adalah suatu rangkaian atau pekerjaan yang
dicapai seseorang dalam kurun waktu tertentu yang berkaitan dengan sikap, nilai,
perilaku dan motivasi dalam individu.
Hal –hal yang mendorong seseorang memilih karir sebagai wirausaha
distributor MLM, dapat diketahui melalui penilaian kepribadian khususnya
pengalaman dan latar belakangnya. Menurut Sumitro (2001 : 271) Pengalaman,
seperti yang dapat dilihat dari biografi seseorang, bermanfaat untuk melihat
keterampilan, dan kompetensi untuk meningkatkan kewirausahaan, pengembangan
nilai-nilai kewirausahaan, dan mendorong untuk mencetuskan ide-ide kewirausahaan.

2.2.1. Pegembangan Karir
Pengembangan karir (career development) meliputi manajemen karir
(career management) dan perencanaan karir (career planning). Sebagaimana

gambar 2.1 dijelaskan sebagai berikut;


Gambar 2.1 menjelaskan bahwa pengembangan karir organisasional
merupakan hasil-hasil yang muncul dari interaksi antara perencanaan karir
individu dengan manajemen karir secara institusional.
Pengembangan karir (career development) adalah suatu kondisi yang
menunjukkan adanya peningkatan jenjang atau status seseorang dalam
pekerjaannya Hal –hal yang mendorong seseorang memilih pengembangan karir
sebagai wirausaha, dapat diketahui melalui penilaian kepribadian khususnya
pengalaman dan latar belakangnya. Sumitro (2001 : 272) Pengalaman, seperti
yang dapat dilihat dari biografi seseorang, bermanfaat untuk melihat
keterampilan, dan kompentensi untuk meningkatkan kewirausahaan,
pengembangan nilai-nilai kewirausahaan, dan mendorong untuk mencetuskan ideide
kewirausahaan.

Pilihan pengembangan karir melalui wirausaha sebagai distributor MLM
diperlukan kreatif, inovatif. Seorang wirausaha dituntut keberanian mengambil
resiko, mendorong perubahan dalam pengembangan karirnya. memberikan
beberapa pendapat yakni pertama, dipandang dari segi energi dan dorongan serta
daya fisik yang kuat sehingga ingin berkarir sebagai wirausaha ( distributor)
MLM. Kedua, wirausaha (distributor), yang memulai pada usia tua, tidak
memiliki masa karir yang panjang sebagaimana orang muda, walaupun mungkin
lebih cepat berhasil karena faktor pengalaman.

2.3. Pengertian Multi Level Marketing
Multi Level Marketing (MLM), Menurut Clothier (1996: 33) adalah
“ Suatu cara atau metode menjual barang secara langsung kepada pelanggan melalui
jaringan yang dikembangkan oleh para distributor lepas yang memperkenalkan para
distributor berikutnya; pendapatan yang dihasilkan terdiri dari laba eceran dan laba
grosir ditambah dengan pembayaran-pembayaran berdasarkan penjualan total
kelompok yang dibentuk oleh sebuah distributor “.

Atau yang dikenal pula dengan nama Network Marketing (pemasaran secara
jaringan), yaitu pemasaran produk atau jasa oleh seseorang atau sekelompok orang
independen yang membentuk jaringan kerja secara bertingkat.
Multi Level Marketing, istilah ini merujuk kepada sebuah sistem bisnis, di
mana pemasaran produk atau jasa dilakukan oleh individu (distributor) yang
independen (artinya tidak terikat kontrak kerja dengan perusahaan pengelola
bisnisnya). Distributor ini lalu membentuk sebuah jaringan kerja untuk memasarkan
produk atau jasa. Dari hasil penjualan pribadi dan jaringannya, setiap bulan
perusahaan akan memperhitungkan bonus atau komisi sebagai hasil usahanya
(Harefa, 1998 a :11) .

MLM merupakan sebuah konsep pemasaran yang lugas dan sering tidak
dipahami dengan tepat serta kurang dihargai sebagai sebuah peluang bisnis yang
serius ( Clothier,1996: 6). Struktur jaringan MLM prinsipnya tidaklah berbeda dengan
sistem distribusi barang lainnya. Masing- masing orang dalam jaringan itu membeli
barang-barang yang harganya tergantung kepada jumlah yang dibeli dan menerima
suatu persentase harga eceran sebagai labanya. Dalam MLM setiap distributor secara
pribadi telah diperkenalkan dengan bisnis ini oleh perusahaanya atau, yang lebih
sering terjadi, oleh distributor yang telah ada.
Dalam usaha konvensional, para tenaga penjual lazimnya dipekerjakan
sebagai pegawai. Dalam MLM, para distributorlah yang menjadi tenaga-tenaga
penjualnya, dan mereka mempekerjakan sendiri.

Gambar 2.2

Gambar 2.2 menjelaskan beberapa saluran pemasaran dengan berbagai panjangnya.
Saluran nol tingkat (disebut pula saluran pemasaran langsung) terdiri seorang
produsen yang langsung menjual pada konsumen, saluran satu tingkat yaitu saluran
yang melibatkan pengecer baru ke konsumen, saluran dua tingkat yaitu saluran yang
melibatkan grosir dan pengecer.

Gambar 2.3 Sistem distribusi MLM


Gambar 2.3. Sistem MLM ini memangkas jalur distribusi dalam penjualan
konvensional karena tidak lagi melibatkan grosir, pengecer tetapi langsung kepada
distributor yang sekaligus sebagai konsumen. Saluran ini yang dipakai oleh sistem
MLM. Penghematan perusahaan MLM boleh jadi juga memungkinkan perusahaan
tersebut untuk mengunakan lebih banyak uang guna penelitian dan pengembangan.
Oleh karena itu, produk-produk yang terkait biasanya mempunyai mutu unggul.
Semua penjualan MLM dilakukan melalui penjualan langsung (direct selling).
(Harefa, 1998 a : 4)

Menurut Direct Sales Agents, MLM adalah sebuah asosiasi wiraswastaan
bebas dalam penjualan langsung dengan tujuan untuk menciptakan “ sebuah lembaga
yang cukup kuat untuk mewakili kepentingan –kepetingan para anggotanya dalam
semua situasi di mana untuk bertindak untuk bertindak sendiri tidak mencukupi.
MLM menawarkan peluang untuk membangun bisnis bagi orang biasa yang tidak
mempunyai modal dan pengalaman. Dalam perspektip yang lain Mahatir Muhammad
menjelaskan “ MLM is the way to survive in the global market “ .
(Harefa, 1998 b : 13)

Sekalipun karir sebagai distributor MLM sangat menjanjikan, namun
meraih keberhasilan lewat jalur MLM bukanlah hal yang mudah sebagaimana
membalik telapak tangan produsen distributor/konsumen.

BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1. Kerangka Konseptual
Berdasarkan kajian teoritis yang telah dijabarkan pada BAB 2, maka
kerangka konseptual penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

Berdasarkan kerangka konseptual tersebut dapat dijelaskan, bahwa
Pengembangan karir individu distributor MLM dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor
internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah Wirausaha yang meliputi tiga
komponen yaitu K reatif (Xý), Inovatif (Xô), Berani (Xç), serta usi a, jenis kelamin,
pendidikan, tetapi ketiga hal tersebut tidak diteliti.
Faktor ekternal, termasuk dalam faktor yang tidak diteliti karena jangkauannya
terlalu luas, seperti keluarga, ekonomi, sosial-budaya.
Variabel X secara bersama-sama memiliki pengaruh terhadap variabel Y,
Wirausaha adalah variabel bebas (independent variable /IV) yang berpengaruh terhadap
pengembangan karir individu, merupakan variabel terikat / tergantung (dependent
Variable / DV).

3.2. Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik, yaitu
peneliti melakukan pengamatan langsung kepada responden dengan melakukan
penyebaran kuisioner untuk dianalisis. Pemilihan sampel berkaitan dengan
bagaimana memilih respoden yang dapat memberikan informasi yang mantap dan
terpercaya untuk mendapatkan data yang diperlukan.

3.2. Populasi Dan Sampel
3.2.1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah distributor yang telah bergabung
secara aktif pada MLM di Malang. Sebagaimana pendapat Singarimbun
(1989:149-152) bahwa, untuk dapat memberikan gambaran yang lebih
representatif dan mengurangi tingkat kesalahan (error) terhadap nilai populasinya,
maka total populasi atau sensus lengkap dapat memberikan gambaran yang
representatif atau lebih mendekati nilai sesungguhnya. Mengingat populasi yang
ada masuk kategori infinite, maka peneliti mengunakan sampel dalam rancangan
penelitian ini.

3.2.2. Sampel
Pemilihan sampel berkaitan dengan bagaimana memilih respoden yang
dapat memberikan informasi yang mantap dan terpercaya untuk mendapatkan data
yang diperlukan (Sanapiah, 1990: 25), untuk mendapat sampel tersebut peneliti
memilih distributor yang aktif pada MLM di Malang. Maka sampel pada
penelitian ini berdasarkan rumus sebanyak 96 orang. Sebagaimana dikemukakan
oleh Kerlinger (1992 :205), menyarankan pengunaan sampel besar, karena makin
besar ukuran sampel maka semakin kecil probabilitas terpilihnya sampel yang
menyimpang.

3.2.3. Tehnik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel secara non probability dengan metode
purposive sampling. Besar sampel pada penelitian ini diperoleh berdasarkan
rumus (Zainuddin, 2002 :58)
N = Z á² - p. q = (1,96)² x 0,5 x0,5 = 96.04
d² (0,1) ²
N adalah jumlah sampel
p adalah estimator
q adalah 1-P
Z á² adalah kurva normal pada á = 0,05
d² kurva normal pada 0,1

3.3. Variabel Penelitian
3.3.1. Identifikasi Variabel
Variabel yang akan diteliti dalam penelitian ini diklasifikasi sebagai
berikut :
1. Variabel tergantung (DV/ dependent variable/Y) adalah pengembangan karir
individu.
2. Variabel bebas (IV/ independent variable/X) adalah aktifitas wirausaha yang
meliputi Kreatif (Xý), Inovatif (Xô), dan berani (Xç)
3. Variabel luar (ekstraneus variables) adalah variabel-variabel yang di luar
hubungan yang tidak diteliti atau variabel yang ikut mempengaruhi
pengembangan karir individu adalah keluarga, ekonomi, sosial budaya.

3.3.2. Definisi Operasional variabel
1. Wirausaha (W) adalah aktifitas yang dilakukan distributor MLM yang
meliputi kreatif, inovatif, berani mengambil resiko.
a. Kreatif (Xý) merupakan kemampuan untuk melakukan dengan lebih
baik (to do things better).
b. Inovatif (Xô) kemampuan melahirkan ide-ide yang mengabungkan
dan melalukan dengan cara berbeda (doing things differently).
c. Berani (Xç) kemampuan mengabungkan proses-proses baru yang
belum pernah dilakukan “orang yang suka mengambil resiko” (risktaker).
Berdasarkan penjelasan definisi operasional semua variabel dalam
penelitian ini berskala pengukuran ordinal
2. Pengembangan karir individu (Y) dalam penelitian ini adalah karir atau tidak
ada pengembangan karir. Berdasarkan penjelasan definisi operasional variabel
Y berskala pengukuran nominal..
Berdasarkan penjelasan difinisi operasional semua variabel dalam
penelitian ini, maka jenis variabel bebas berskala pengukuran ordinal dan
untuk variabel terikat berskala pengukuran nominal. Oleh karena itu pada
variabel bebas skala pengukuran nominal ada dua kategori maka untuk
metode analisa statistik yang digunakan adalah regresi logistik.

3.4. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ilmu sosial menurut Sugiyono (2001 :96) dikenal 3 jenis
Instrumen penelitian yaitu kuisioner, observasi dan wawancara. Untuk mendapatkan
data dalam penelitian ini adalah mengunakan kuisioner tertutup. Kuesioner tertutup
dipergunakan untuk mendapatkan data tentang variabel – variabel yang akan diteliti.
Dalam kuesioner tertutup penelitian mengunakan skala likert, karena dalam
pengunaan skala ini mempunyai keuntungan sebagai berikut 
1. Penggunaan dan pengolahan datanya lebih sederhana.
2. Waktu yang dipergunakan untuk menjawab kuesioner sangat singkat.
Adapun alasan digunakan kuisioner dalam penelitian ini adalah :
a. Subyek adalah orang yang paling mengetahui dirinya sendiri.
b. Apa yang diungkap oleh subyek kepada peneliti dapat dipercaya.
c. Interpretasi subyek tentang pertanyaan yang diajukan adalah sama dengan
apa yang dimaksud oleh peneliti. (Hadi, 1994 :157)

3.4.1. Penentuan skor
Indikator – indikator dari semua variabel dalam penelitian ini dijabarkan
dalam pertanyaan, di mana setiap pertanyaan diberi skor antara 1 - 3. Dengan
penilaian 75 % < baik, 50 – 74,9 % cukup, < 50 % kurang (Arikunto, 2000). Hal
ini sesuai untuk mengukur sikap atau karakteristik tertentu yang dimiliki
seseorang, di mana skala ini responden memilih jawaban dari 19 – 25 katagori
baik, 10 – 18 katagori cukup, dan kurang dari 10 katagori kurang.
Pada angket tentang memilih karir atau tidak karir dibeikan skor antara 0
dan 1. Skor tertinggi 1 menunjukkan bahwa responden sangat tertarik dalam
pengembangan karir, skor terendah 0 menunjukkan bahwa responden tidak
memiliki target terhadap pengembangan karir.

3.5. Lokasi Dan Waktu Penelitian
Penelitian akan dilakukan pada distributor MLM di Malang. Penelitian
dilakukan pada bulan Juli 2003 selama 3 minggu, yaitu mulai tanggal 7 - 27 Juli
2003. Pada penelitian ini untuk keperluan penyebaran dan pengumpulan kembali
kuisioner, peneliti dibantu oleh tiga stockist (tempat pengambilan barang), dan
distributor yang telah memiliki jaringan (network) aktif yang ada di Malang.
Selanjutnya para distributor tersebut membantu peneliti untuk menyampaikan
maksud dari penelitian tersebut. Disamping itu peneliti juga menghadiri setiap
pertemuan yang dilaksanakan stockist untuk mendapatkan responden.

3.6. Prosedur Pengumpulan data
3.6.1. Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari dua sumber, yaitu
1. Data primer
Adalah data yang diperoleh langsung dengan para distributor melalui kuesioner.
2. Data sekunder
Adalah data yang diperoleh dari berbagai informasi yang berkaitan dengan topik
yang akan diteliti. Untuk memperoleh fakta dari informasi yang dibutuhkan
dilakukan cara penelusuran data dengan pengkajian kepustakaan.

3.6.2. Cara Pengumpulan Data
Cara Pengumpulan data yang digunakan dengan kuestioner terbagi terbagi
dalam dua topik untuk mengukur wirausaha dan pengembangan karir.
3.7. Cara Pengelolaan Data
Cara yang digunakan untuk pengolahan data pada penelitian ini melalui
berbagai macam, yaitu :
a. Editing, adalah kegiatan memeriksa data yang sudah terkumpul dalam
penyebaran kuisioner, apakah sudah lengkap atau tidak. Kuisioner
yang disebarkan sebanyak 120 lembar dan sebagian data tidak
kembali, sebanyak 17 lembar dan tidak lengkap 5 lembar, dan 2
cadangan.
b. Coding, adalah kegiatan mengklasifikasi kode tertentu kepada masingmasing
kategori.
c. Tabulasi, adalah memasukkan data ke dalam tabel-tabel dan mengatur
angka-angka sehingga dapat dihitung jumlah jawaban dalam berbagai
kategori
3.8. Cara Analisis Data
Analisis data yang dilakukan menggunakan bantuan program SPSS (
Statistical Program for Social Science) Versi 10. Untuk keperluan pengelolaan
dan analisis data, peneliti dibantu oleh satu orang tenaga profesional yang
menguasai program SPSS 10. Setelah dilakukan pengelolaan data, maka
selanjutnya dilakukan untuk menganalisis pengaruh variabel-variabel bebas
terhadap variabel tergantung dengan menggunakan model
analisis regresi logistik yang diolah dengan program SPSS 10. Model ini dipilih
karena ingin mengetahui besarnya kontribusi pengaruh variabel bebas terhadap
variabel tergantung. Serta faktor resiko variabel bebas terhadap variabel terikat.
Adapun formula dari model regresi logistik sebagai berikut :