PERANCANGAN ULANG MESIN AC SPLIT KAPASITAS 2 PK

Posted in Senin, 19 Maret 2012
by contoh-skripsi.com

ABSTRAK



Pengunaan mesin untuk pengkondisian udara (AC) di Indonesia semakin meningkat baik untuk bangunan berukuran kecil, sedang, maupun besar  mulai dari rumah tinggal, perkantoran, pertokoan hotel dan industri. Pengkondisian udara yang dimaksudkan adalah untuk memberikan kenyamanan dan kesegaran ruangan yang dikondisikan. Setiap ruangan mempunyai beban kalor yang berbeda dan hal ini akan mempengaruhi spesifikasi mesin AC yang akan dipakai. Ketepatan penentuan spesifikasi mesin AC yang sesuai, berpengaruh pada kesegaran dan kenyamanan di dalam ruangan.
            Perancangan ini hanya pada empat buah komponen utama Mesin AC, yaitu: kompresor, kondensor, pipa kapiler, evaporator. Kompresor berfungsi menghisap refrigeran untuk dinaikan tekanannya. Kondensor berfungsi untuk mencairkan uap refrigeran yang bertekanan dan bertemperatur tinggi. Pipa kapiler digunakan untuk menurunkan tekanan refrigeran yang keluar dari kondensor. Di dalam evaporator cairan menguap secara berangsur-angsur karena menerima panas dari ruangan. Rancangan ini bertujuan untuk mendapatkan hasil rancang ulang mesin AC split kapasitas 2 Pk dan dalam perhitungannya menggunakan bantuan MATLAB.
            Hasil perancangan ulang mesin AC kapasitas 2 PK dengan beban pendinginan sebesar 19000 Btu/hr dengan suhu evaporator 6°C dan suhu kerja kondensor 53°C  didapat Pada evaporator luas perpindahan panas total 0,62 m2, panjang pipa perlintasan 0,77 m, pada kondensor didapat  luas perpindahan panas total 1,19 m2 dan panjang pipa perlintasan 0,86 m, pipa kapiler dengan panjang 1,2 m dengan diameter dalam 2 mm, COP 4,35, refrigeran yang digunakan adalah R-22 dan daya kompresor 1,75 kW.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1              Latar belakang
Dewasa ini penggunaan AC semakin luas dari rumah tinggal, perkantoran, hotel, mobil, rumah sakit, dan industri. Pemakaian AC bervariasi dari kapasitas kecil, sedang dan besar.
Terkait dengan hukum termodinamika dua muncul istilah refrigerasi dan pengkondisian udara. Bidang refrigerasi dan pengkondisian udara adalah saling berkaitan, tetapi masing-masing mempunyai ruang lingkup yang berbeda. Pengkondisian udara berupa pengaturan suhu, pengaturan kelembaban dan kualitas udara. Sedangkan refrigerasi digunakan untuk kebutuhan proses tertentu seperti pendinginan untuk rumah tangga, keperluan umum, dan industri antara lain meliputi : cold storage, ice scating rinks, desalting, pemrosesan makan dan minuman, industri kimia, industri manufaktur. Pengkondisian udara dan refrigerasi juga mempunyai ruang lingkup yang sama yakni dalam hal pendinginan dan pengurangan kelembaban (Stoecker, 1996).
Aplikasi pengkondisian udara dimanfaatkan untuk kenyamanan manusia, misalnya : AC spilt, window tipe, AC sentral (water chiling plant), rooftop unit. Sedangkan untuk industrial proses, misalnya : spray washer, ruangan pabrik komponen presisi, indusri percetakan, produk fotografis.
Tujuan penggunaan AC bagi tempat tinggal adalah untuk kenyamanan  sehingga dapat mencapai temperatur dan kelembaban yang sesuai dengan yang dipersyaratkan, sehingga orang yang berada dalam ruangan merasa nyaman.  Kondisi rancangan dalam ruangan  (DBT dan RH), AC kenyamanan memiliki 68 s/d 70 oF dan DBT 45 s/d 55 % RH. Dengan kecepatan semburan udara 0,25 m/dt maka distribusi udara dapat terpenuhi dan tercukupinya.
Mengingat perkembangan AC untuk kebutuhan rumah tinggal  meningkat, perlu dilakukan perancangan mesin AC untuk rumah tinggal. Sifat perancangan pada tugas akhir ini adalah perancangan ulang dimana dari mesin yang ada dicoba dihitung ulang  dengan kaidah-kaidah perancangan yang standar.

1.2 Batasan masalah
Spesifikasi mesin AC yang dirancang ulang :
  • Merk AC                      : xxxx.
  • Power source              : 220 V ; 50 Hz.
  • Cooling capacity         : 16500 Btu/h = 4,835 kJ/s.
  • Input                           : 1550 W.
  • Running Ampere         : 7,3 A.
  • Refrigerant                  : R22 ; 1,15 Kg.
Perancangan ulang dibatasi pada :
Pemilihan kompresor, penentuan dimensi kondensor, pipa kapiler, evaporator, R-22 sebagai refrigeran dan beban pendinginan sebesar 19000 Btu/hr.

1.3 Tujuan perancangan ulang
Tujuan perancangan ulang :
1)      Mendapatkan hasil perancangan ulang mesin AC Split 2 PK
2)      Membandingkan spesifikasi mesin pendingin pada data eksisting dengan hasil perancangan ulang.

1.4 Manfaat perancangan ulang
Manfaat perancangan ulang pada sistem pendingin adalah sebagai berikut:
1)      Mahasiswa mampu mengevaluasi spesifikasi komponen-komponen mesin AC yang ada pada instalasi sistem pendingin untuk keperluan rumah tinggal.
2)      Menambah khasanah perancangan mesin AC khususnya untuk aplikasi rumah tinggal.
BAB II
DASAR TEORI
2.1 Pengertian umum
Refrigerasi adalah aplikasi dari hukum ke dua Termodinamika yang dinyatakan oleh Clausius.
”adalah hal yang tidak mungkin untuk membangun suatu alat yang beroperasi dalam suatu siklus yang mengalirkan kalor dari ruangan yang bersuhu rendah ke ruangan yang bersuhu tinggi tanpa memasukan energi dari luar ”, Pernyataan tersebut menjelaskan sistem dapat menghasilkan  perpindahan kalor dari sumber yang dingin ke sumber yang lebih panas asalkan terdapat masukan berupa kerja atau   energi. 
Suatu penggunaan yang luas dari termodinamika adalah  refrigerasi yaitu perpindahan panas dari temperatur yang rendah ke temperatur yang lebih tinggi. Sistem yang menghasilkan proses refrigerasi adalah refrigerator (atau pompa panas), dan siklusnya disebut siklus refrigerasi. Siklus refrigerasi yang banyak digunakan adalah siklus kompresi uap sederhana, dimana refrigeran diuapkan, dan dikodensasikan dengan jalan mengkompresi uap tersebut.
Prinsip utama mesin refrigerasi adalah untuk menurunkan temperatur agar materi atau ruangan dapat terjaga temperaturnya sesuai dengan kebutuhan dan kenyamanan yang dikehendaki.
2.2 Siklus refrigerasi kompresi uap
Mesin refrigerasi dengan kompresi uap merupakan sistem yang terbanyak digunakan dalam daur refrigerasi. Prinsip dasar uap ini adalah uap ditekan kemudian diembunkan setelah itu tekanannya diturunkan agar cairan itu akan menguap kembali karena menyerap panas lingkungan. Dalam sistem kompresi diperlukan 4 komponen, yaitu kompresor, kondensor, katup ekspansi dan evaporator. Fungsi dari masing-masing alat tersebut adalah sebagai berikut:
Gambar 2.1 Sistem Kompresi Uap Standar
Sistem kompresi uap standar terdiri dari empat komponen utama yaitu :
a) Kompresor
Kompresor menghisap uap refrigeran untuk dinaikan tekanannya, dengan naiknya tekanan maka temperatur refigeran juga naik. Sehingga setelah keluar dari kompresor, refigeran tadi berbentuk uap panas lanjut. Energi yang diperlukan untuk kompresi diberikan oleh motor listrik yang menggerakan kompresor. Jadi dalam proses kompresi, energi diberikan kepada uap refrigeran.
b) Kondensor 
Uap refrigeran yang bertekanan dan bertemperatur tinggi pada akhir kompresi dengan mudah dicairkan dengan menggunakan fluida pendingin seperti udara atau air. Dengan kata lain, uap refrigeran melepaskan kalor laten  pengembunan kepada fluida pendingin sehingga refrigeran tadi mengembun dan menjadi cair. Pada siklus ideal tidak terjadi penurunan tekanan dan temperatur dikondensor. Sedangkan pada siklus aktual terjadi penurunan tekanan yang diikuti penurunan temperatur yang terjadi karena gesekan antara refrigeran dengan pipa kondensor.
c) Katup Ekspansi (pipa kapiler)
Setelah uap refrigeran dicairkan di dalam kondensor kemudian refrigeran cair yang bertekanan tinggi tersebut diekspansikan melalui pipa kapiler (katup ekspansi). Pada saat melewati pipa kapiler tekanan refrigeran mulai turun dan diikuti dengan turunnya temperatur refrigeran secara drastis.
d) Evaporator
Cairan refrigeran yang  telah diekspansikan di dalam katup ekspansi (pipa kapiler) sehingga turun tekanan serta temperaturnya kemudian masuk ke dalam pipa evaporator. Di dalam pipa evaporator cairan refrigeran menguap secara berangsur-angsur karena menerima kalor laten sebanyak  kalor laten pengembunan dari ruangan yang didinginkan. Selama proses penguapan, didalam pipa akan terdapat campuran refrigeran-refrigeran dalam fasa cair dan fasa uap. Pada siklus ideal, temperatur dan tekanan di dalam pipa dianggap konstan. Tetapi pada kondisi aktualnya terjadi penurunan tekanan dan temperatur yang diakibatkan karena adanya rugi-rugi gesek antara refrigeran dan pipa-pipa evaporator.
   
2.2.1 Entalpi 
Entalpi adalah energi yang dikandung oleh suatu bahan sesuai dengan temperatur dan massa bahan tersebut. Dalam setiap proses refrigerasi yang kita amati adalah perubahan entalpinya. Perubahan entalpi adalah jumlah kalor yang yang diberikan atau diambil dalam tiap satuan massa melalui proses tekanan konstan. Harga entalpi biasanya sudah disajikan dalam bentuk tabel atau grafik  dengan varibel tekanan dan temperatur.
h = u + pv...............................................................................................(2-1)
dengan,  h = entalpi jenis, kJ/kg
  p = tekanan, kPa  
  v = volume spesifik, m3/kg
  u = energi dalam, kJ/kg

2.2.2 Temperatur 
Temperatur suatu bahan menyatakan keadaan termalnya dan kemampuan untuk bertukar energi dengan bahan lain. Semakin tinggi perbedaan temperatur bahan terhadap  benda lain maka kemampuan untuk bertukar energi lebih besar

2.2.3 Entropi
Entropi adalah ukuran tingkat ketidakteraturan molekular suatu zat. Hubungan perubahan entropi dengan perubahan kalor yang terjadi dalam proses, secara matematis dapat ditulis sebagai berikut :
      ds =  ...........................................................................................(2-2)
dengan,  ds   = perubahan entropi, kJ/kg.K
Q = perpindahan kalor, kJ/kg
T    = temperatur mutlak, K

2.2.4 Tekanan
Tekanan adalah gaya normal yang diberikan oleh suatu fluida persatuan luas benda yang terkena gaya tersebut. Tekanan absolut adalah tekanan di atas nol atmosfir, sedangkan ukuran gauge  diukur di atas tekanan atmosfer suatu tempat. Satuan tekanan yang  biasa dipakai : N/m2, Psi.

2.3 Perpindahan panas
Perpindahan panas adalah proses bertukarnya energi dari suatu benda ke benda lain yang mempunyai perbedaan temperatur. Perpindahan panas dapat dibedakan dalam perpindahan panas dengan cara konduksi, konveksi, radiasi. 

2.3.1 Perpindahan panas  konduksi
Perpindahan panas konduksi perpindahan panas melalui perantara molekul-molekul yang diam pada suatu benda.  Perpindahan panas yang terjadi dirumuskan oleh fourier dengan persamaan sebagai berikut :
Q = - k . A .  .................................................................................(2-3)
dengan, k = konduktifitas termal bahan, W/m2.0C
A = luas panampang, m2
T  = Perbedaan temperatur yang terjadi, 0C
L   = tebal bahan, m

2.3.2 Perpindahan panas konveksi
Jika benda bersuhu tinggi berada pada lingkungan fluida yang bersuhu rendah maka akan terjadi proses perpindahan panas secara konveksi dari benda ke lingkungan. Hal ini terjadi karena gerakan partikel-partikel fluida. Pepindahan panas konveksi diklasifikasikan :
1.Konveksi bebas
Terjadi karena perbedaan kerapatan yang disebabkan gradien suhu.
2. Konveksi paksa
Gerakan pencampuran karena adanya gerakan mekanis.
Persamaan perpindahan panas ini adalah :
Q = h.A.(Ts-Tf).......................................................................................(2-4)
dengan, h = koefisien perpindahan panas konveksi, W/m2 0C
A = luas panampang, m2
 Ts = suhu permukaan, 0C
 Tf = suhu lingkungan, 0C
2.3.3 Perpindahan panas radiasi
Radiasi adalah proses mengalirnya panas dari benda bersuhu tinggi ke benda bersuhu rendah bila benda terpisah baik oleh udara/gas atau hampa (vakum). Dalam perpindahan panas radiasi dikenal penyinaran ideal/benda hitam yang dapat memancarkan energi dengan laju sebanding dengan pangkat empat suhu absolut benda itu, besarnya radiasi dirumuskan :
Eb =  . T4..............................................................................................(2-5)
dengan,     = konstanta Stefan Boltzman ( 5,669 x 10-8 W/m2.K)
T4 = Temperatur absolut permukaan benda, K

2.3.4 Koefisien perpindaham panas menyeluruh
Koefisien perpindahan panas menyeluruh adalah penjumlahan semua tahanan termal bahan antara udara atau fluida lainnya pada dua sisi permukaan (Stoecker, 1996).
Q = U.A.t.............................................................................................(2-6)
dengan, U = koefisien perpindahan panas menyeluruh, W/m2 0C
 A = luas permukaan perpindahan kalor,  m2
t = Perbedaan temperatur,  0C

2.4 Proses operasi
Komponen utama dari sistem pengkondisian udara kompresor, kondensor, katup ekspansi, evaporator dan receive-driver. Minimal dengan empat komponen alat ini suatu sistem pengkondisian udara dapat beroperasi.
Sistem pendinginan menggunakan aliran zat yang berupa cairan atau uap yang berubah-ubah keadaannya saat menjalani siklus. Hal ini disebabkan oleh tekanan, suhu, entalpi dan entropi adalah sifat penentu selama perubahan. Maka hubungan antara sifat-sifat ini dapat digambarkan dengan diagram (P-h), seperti terlihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 2.3 Siklus Kompresi Uap Standar
(a) diagram T-S
(b) diagram p-h

1-2 : Kompresi secara adibatik dan reversible dari uap jenuh menuju tekanan    kondensor.
2-3 : Pelepasan kalor secara reversible pada tekanan konstan menyebabkan penurunan panas (desuperheating) dan pengembunan refrigeran.
3-4 : Ekspansi ireversible pada entalpi konstan dari cairan jenuh menuju tekanan evaporator.
4-1 :Penambahan kalor pada tekanan tetap yang menyebabkan penguapan menuju uap jenuh.

2.4.1 Dampak Refrigerasi
Jumlah kalor yang diserap oleh evaporator per satuan massa pada saat terjadi penguapan disebut dampak refrigrasi, pada perancangan ini menggunakan R-22. Besarnya dapat dihitung menggunakan persamaan :
qe = ..............................................................................................(2-7)
dengan : h1 = entalpi pada awal proses kompresi, kJ/kg
  h4 = entalpi pada awal proses penguapan, kJ/kg 

2.4.3 Daya spesifik dan daya total kompresor
Kerja spesifik adalah kerja yang setara dengan perubahan entalphi selama proses kompresi dan dirumuskan sebagai berikut :
w =  ..........................................................................................(2-8)

dengan : w  = kerja spesifik kompresor kJ/kg
h1 = entalpi pada awal proses kompresi, kJ/kg
h2 = entalpi pada akhir proses kompresi, kJ/kg

Kebutuhan daya total kompresor adalah laju aliran massa kerja spesifik kompresor selama proses kompresi isentropik.
W = m.(   )................................................................................(2-9)
dengan, W = daya total, W

2.4.2 Laju Aliran Masa Refrigeran
Laju aliran masa ini menggambarkan besarnya massa tiap satuan waktu.
m =  ................................................................................................(2-10)

dengan, Qe = adalah beban pendinginan,W
 qe = efek refrigerasi, kJ/kg
 m = laju aliran massa kg/s

2.4.4 Panas buang kondensor
Panas refrigeran yang dibuang kondensor disebut panas buang kondensor, beasrnya adalah :
qk =  ........................................................................................(2-12)
dengan, qk = panas buang kondensor, kJ/kg
h2 = entalpi pada awal desuperheating, kJ/kg
h3 = entalpi pada akhir kondensasi, kJ/kg

2.4.5 Kalor buang total kondensor
Kalor buang total kondensor adalah kalor yang dibuang kondensor dikalikan dengan laju aliran massa refrigeran. Besarnya adalah :
Qk = m . qk........................................................................................(2-13)
dengan,  Qk = kalor buang total kondensor, W

2.4.6 COP (Coefficient  Of Performance)
COP dipergunakan untuk menyatakan perfoma ( unjuk kerja ) dari siklus refrigerasi. Semakin tinggi COP yang dimiliki oleh suatu mesin refrigerasi maka akan semakin baik mesin refrigerasi tersebut. COP tidak mempunyai satuan karena merupakan perbandingan antara dampak refrigerasi dengan kerja spesifik kompresor : 
  COP =  ...............................................................................(2-14)
dengan,    COP = prestasi kerja mesin refrigerasi
h1 = entalpi masuk  kompresor, kJ/kg
h2 = entalpi keluar kompresor, kJ/kg
h4 = entalpi masuk evaporator, kJ/kg

2.4.7 EER (Energy Efficiency Ratio)
EER adalah perbandingan antara beban pendinginan dengan daya yang diperlukan oleh kompresor . Semakin tinggi  EER suatu mesin refrigerasi maka  semakin baik performa mesin refrigerasi tersebut.
EER =   =     ................................................(2-15)
Dengan,  EER = Energy Eficiency Rasio  
 Qo = Beban pendinginan total, Btu/hr
  W = Daya kompresor total, W

2.5 Refrigeran
Refrigeran adalah fluida kerja yang dipakai pada mesin refrigerasi yang dapat menyerap panas melalui penguapan. Sebagai media perpindahan panas dalam sistem pendinginan, refrigeran sangat penting untuk diperhatikan sifat-sifatnya, selain itu refrigeran juga perlu dipertimbangkan segi ekonomisnya untuk pendinginan yang berkapisitas besar. Dalam pemakaiannya refrigeran dibedakan menjadi refrigeran primer dan refrigeran sekunder.
Refrigeran primer adalah refrigeran yang dipakai dalam sistem kompresi uap. Refrigeran sekunder adalah cairan yang digunakan untuk mengangkut energi kalor suhu rendah dari suatu tempat ke tempat lain. Pemilihan refrigeran hendaknya dapat dipilih jenis refrigeran yang sesuai dengan jenis kompresor dan pemilihan refrigeran harus memperhatikan syarat-syarat termodinamika, kimiawi, fisik (Arismunandar, 1995).
Pada perancangan ini penulis memilih menggunakan R-22 hal ini disesuaikan dengan kondisi eksiting yang menggunakan R-22 sebagai refrigeran. 
Persyaratan refrigeran untuk unit refrigerasi adalah sebagai berikut:

2.5.1 Syarat-syarat refigeran
A) Syarat Termodinamika
1) Titik didih
Titik didih refrigeran merupakan indikator yang menyatakan apakah refrigeran yang dipakai  dapat menguap pada temperatur rendah yang diinginkan, tetapi pada tekanan yang tidak terlalu rendah.
2) Tekanan pengembunan yang tidak terlampau tinggi
Dengan tekanan pengembunan yang rendah maka perbandingan kompresinya lebih rendah sehingga penurunan prestasi mesin dapat dihindarkan. Selain itu dengan tekanan kerja yang lebih rendah, mesin dapat bekerja lebih aman karena kemungkinan terjadinya ledakan, kebocoran rendah.
3) Tekanan penguapan harus cukup tinggi
Sebaiknya refrigeran memiliki temperatur penguapan pada tekanan yang lebih tinggi dari tekanan atmosfir kerusakan dan sebagainya, akan menjadi lebih kecil.
4) Kalor laten penguapan
Panas laten (panas penguapan) refrigeran yang tinggi  sangat dikehendaki, sebab akan menghasilkan ”refrigerating effect” yang besar. Aliran refrigeran yang disirkulasikan akan lebih rendah bila refrigerating effect tinggi dan akan lebih ekonomis.
5) Titik beku
Refrigeran yang dipakai sedemikian rupa sehingga titik beku fluida ini jauh berada di bawah temperatur kerja evaporator, jika titik beku refrigeran ini ternyata lebih dekat dengan temperatur kerja evaporator, maka waktu pendinginan akan berlangsung lebih lama dari semestinya.

B) Syarat kimia refrigeran
1) Tidak mudah terbakar dan mudah meledak
2) Tidak boleh beracun dan berbau merangsang.
3) Tidak menyebabkan terjadinya korosi.
4) Stabil dan bereaksi dengan material yang dipakai.
5) tidak mengganggu lingkungan.

C) Syarat fisik refrigeran 
1) Konduktivitas termal yang tinggi akan menyebabkan terjadinya efek perpindahan panas baik.
2) Viskositas yang rendah akan memberikan kerugian tekanan.
3) Mempunyai sifat insulator yang baik.

6)   Koefisien Joule-Thompson
Hendaknya dipilih refrigeran yang mempunyai penurunan  tekanan yang kecil tetapi mempunyai penurunan temperatur yang besar.  Hal tersebut dapat dilihat dari koefisien Joule-Thompson pada  masing-masing refrigeran.
Gambar 2.4 Koefisien Joule-Thompson

2.6 Pipa refrigeran
Pipa refrigeran menghubungkan komponen yang satu dengan komponen yang lain dalam mesin refrigerasi. Ada tiga bagian utama dalam sistem perpipaan refrigerasi dasar. Seperti terlihat pada gambar dibawah ini, ada perpipaan untuk jalur tekan, jalur cairan dan jalur isap.
Gambar 2.5 Perpipaan pada sistem refrigerasi
Jalur cair
Jalur ini terletak antara kondensor dan evaporator. Pipa ini mengalirkan cairan yang lebih tinggi rapat massanya dibandingkan uap pada bagian lain, maka diameternya akan lebih kecil. Pada jalur ini tejadi penurunan tekanan karena adanya katup ekspansi
Pipa refrigeran juga dipakai pada evaporator dan kondensor.
Untuk refrigeran flourokarbon menggunakan pipa tembaga pipa tanpa sambungan (seamless). Ukuran biasa memakai OD (outside diameter).
Untuk amonia memakai pipa besi. Ukuran memakai OPS (iron pipe size).
Jalur hisap
Jalur ini terletak antara evaporator dan kompresor. Jalur hisap ini cukup kritis dalam desain dan kontruksi karena berpengaruh pada penurunan tekanan saat masuk kompresor.
Jalur tekan
Jalur ini terletak antara kompresor dan kondensor. Pada jalur ini harus dicegah aliran balik dari kondensor ke kompresor.

2.7 Sirip pendingin
Sirip pendingin yang dipakai pada evaporator dan kondesor terbuat dari aluminium berbentuk plat persegi panjang yang disusun sejajar dengan jarak tiap sirip sama. Fungsi sirip pendingin adalah sebagai media transfer panas secara konveksi (Althouse, 1997).

2.8 Evaporator
Evaporator adalah komponen pada sistem pendingin yang berfungsi sebagai penukar kalor, serta bertugas menguapkan refrigeran dalam sistem, sebelum dihisap oleh kompresor. Panas udara sekeliling diserap evaporator yang menyebabkan suhu udara disekeliling evaporator turun. Suhu udara yang rendah ini dipindahkan ketempat lain dengan jalan dihembus oleh kipas, yang menyebabkan terjadinya aliran udara (Stoecker, 1996).
Ada beberapa macam evaporator, sesuai dengan tujuan penggunaannya dan bentuknya dapat berbeda-beda. Hal tersebut disebabkan karena media yang hendak didinginkan dapat berupa gas, cairan atau  padat. Maka evaporator dapat dibagi menjadi beberapa golongan, sesuai dengan refrigeran yang ada di dalamnya, yaitu : jenis ekspansi kering, jenis setengah basah, jenis basah, dan sistem pompa cairan.
1) Jenis ekspansi kering
Dalam jenis ekspansi kering, cairan  refrigeran yang diekspansikan melalui katup ekspansi pada waktu masuk ke dalam evaporator sudah dalam keadaan campuran cair dan uap, sehingga keluar dari evaporator dalam keadaan uap air.
2) Evaporator jenis setengah basah 
Evaporator jenis setengah basah adalah evaporator dengan kondisi refrigeran diantara evaporator jenis ekspansi kering dan evaporator jenis basah. Dalam evaporator jenis ini, selalu terdapat refrigeran cair dalam pipa penguapnya.
3) Evaporator jenis basah
Dalam evaporator jenis basah, sebagian besar dari evaporator terisi oleh cairan refrigeran.

2.8.1 Tipe Evaporator
Evaporator umumnya diklasifikasikan menjadi 2 tipe yaitu floaded type dan dry type.
floaded type
Cairan refrigeran melingkupi permukaan perpindahan panas. Refrigeran berada di luar susunan pipa dan fluida yang didinginkan berada di dalam susunan pipa. Biasanya dipakai katup apung untuk mengekspansikan refrigeran.   
Dry type
Refrigeran mengalir di dalam pipa dan fluida yang didinginkan mengalir di luar pipa. Untuk mengatur laju aliran refrigeran dipakai pipa kapiler atau thermostatik ekspansion (DX) coil yang banyak dipakai untuk AC sisi udara. Untuk memperbesar perpindahan panas ditambahkan sirip.    
2.8.2 Perpidahan Kalor di dalam Evaporator
1) Koefisien perpindahan kalor
Perpindahan panas yang terjadi pada evaporator adalah konveksi paksa yang terjadi di dalam dan di luar tube serta konduksi pada tubenya. Perpindahan panas total yang terjadi merupakan kombinsi dari ketiganya. Harga koefisien perpindahan panas menyeluruh ditentukan dengan menggunakan persamaan berikut:
U = ……...………………..(2-16)
Dengan:   U = koefisien pepindahan panas menyeluruh,  W/m2 oC
hi = koefisien perpindahan panas sisi refrigeran, W/m2 oC
ho =koefisien perpindahan panas sisi udara, W/m2 oC
ro =  jari-jari luar pipa, m
ri   =  jari-jari dalam pipa, m
l     = tebal pipa, m
k   = konduktifitas termal pipa, W/m  oC
Rfo = factor pengotoran sisi luar, m2 oC/W
Rfi   = factor pengotoran sisi dalam, m2 oC/W

2) Faktor pengotoran 
Setelah dipakai beberapa lama, permukaan perpindahan kolar penukar kalor mungkin dilapisi oleh endapan yang biasa terdapat dalam aliran, atau permukaan itu mungkin mengalami korosi sebagai akibat interaksi antara fluida dengan bahan yang digunakan dalam kontruksi penukar kalor. Dari kedua hal tersebut, lapisan itu memberikan tahanan termal tambahan terhadap aliran kalor, dan hal ini menyebabkan menurunnya kemampuan kerja alat itu. Pengaruh menyeluruh daripada hal tersebut diatas dinyatakan dengan faktor pengotoran, tahanan pengotoran (Rf).
3)  Kapasitas pendinginan dari evaporator
Jumlah kalor yang diserap oleh refrigeran dari benda atau fluida yang hendak didinginkan, dapat dituliskan sebagai berikut :
Q = U.A.tm ........................................................................................(2-17)
Sehingga,
A =   ..........................................................................................(2-18)
dengan : U = koefisien perpindahan panas menyeluruh W/m2 0C
  Q  = Jumlah kalor yang diserap oleh refrigeran dalm evaporator, W
tm = perbedaan temperatur rata-rata, 0C

4) Perbedaan temperatur rata-rata log (LMTD)
Didalam evaporator, banyaknya perpindahan kalor dihitung berdasarkan perbedaan temperatur logaritmik. Hal tersebut dilukiskan pada gambar di bawah ini. Makin besar perbedaan temperatur rata-rata, makin kecil ukuran penukar kalor (luas bidang perpindahan kalor) yang bersangkutan.
Namun, dalam hal tersebut diatas, temperatur penguapannya menjadi lebih rendah, sehingga kemampuan kompresor akan berkurang dan kerugian biaya opersinya makin besar.
Gambar 2.7 Selisih temperatur rata-rata evaporator
Beda susu rata-rata dapat dicari dengan persamaan
LMTD =  .........................................................................(2-19)
Atau dengan kata-kata, ialah beda suhu pada satu ujung penukar kalor dikurangi beda suhu pada ujung yang satunya lagi dibagi logaaritma alamiah dari pada perbandingan kedua suhu tersebut (Holman, 1996).

2.9 Kompresor
Kompresor dapat dibagi dua jenis utama, kompresor positif dimana gas dihisap masuk kedalam silinder dan dikompresikan dan jenis kompresor non positif dimana gas yang dihisap masuk dipercepat alirannya oleh impeller sehingga mengubah energi refrigeran menjadi energi tekanan.

2.9.1 Penggolongan kompresor
1) Penggolongan berdasarkan metode kompresi

Gambar 2.8 Penggolongan Kompresor Berdasarkan Metode Kompresi

2) Menurut bentuk
- Kompresor horisontal
- Kompresor vertical
- Silinder banyak (jenis V, jenis W, jenis V-V)
3) Menurut kecepatan 
- Kecepatan tinggi
- Kecepatan rendah
4) Menurut refrigeran
- Kompresor ammonia
- Kompresor freon
- Kompresor CO2
5) Menurut konstruksi
- Jenis terbuka
- Jenis semi hermatik (semi kedap)
- Jenis hermatik

2.9.2 Kompresor yang sering digunakan
Kompresor Torak Kecepatan Tinggi Bersilinder Banyak
Kecepatan yang tinggi dipergunakan apabila dipersilakan kapasitas lebih besar. Tetapi kecepatan yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya gerakan besar yang diakibatkan oleh gerakan bolak-balik dari torak. Kecepatan putar kompresor berkisar 900-1800 rpm. Dan daya penggerak kompresor berkisar 3,7 sampai 200 Kw (Arismunandar, 2002)

Gambar 2.9 Konstruksi kompresor torak (silinder ganda) kecepatan tinggi

Kompresor putar
Dibandingkan dengan kompresor torak, kontruksi kompresor berputar lebih sederhana dan komponen-komponennya lebih sedikit. Di samping ini, untuk kapasitas kompresor yang lebih besar, pembuatannya lebih mudah dan getarannya lebih kecil. Hal ini disebabkan karena pada kompresor putar tidak terdapat bagian yang bergerak bolak-balik.
Kompresor sekrup
Kompresor sekrup mempunyai dua rotor yang berpasangan. Kompresor sekrup mempunyai beberapa keuntungan yaitu bagian yang bergesekan lebih sedikit, perbandingan kompresi tinggi dalam satu tingkat, relatif stabil terhadap pengaruh cairan (kotoran) yang terserap dalam refrigeran. Mekanisme kompresi dari kompresor sekrup melakukan tiga langkah yaitu langkah isap, langkah kompresi, langkah buang. Seperti terlihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 2.10 Mekanisme Kompresor Sekrup

Kompresor semi hermatik
Pada kompresor semi hermatik listrik dibuat menjadi satu dengan kompresor. Jadi, rotor motor listrik terletak di perpanjangan ruang engkol dari kompresor tersebut, dengan jalan demikian tidak diperlukan lagi penyekat sehingga dapat dicegah bocornya refrigeran. Di samping itu kontruksinya lebih kompak dan bunyi mesin lebih halus.
Kompresor ini memerlukan insulator listrik yang baik, yaitu yang tahan terhadap gas refrigeran. Jadi gas refrigeran sangat cocok untuk itu,  sebab selain tidak merusak insulator listrik, gas refrigeran juga mempunyai sifat mengisolasi. Pada waktu ini kompresor semi hermatik untuk gas refrigeran dibuat kira-kira sampai 40 kW.

Gambar 2.11 Penampang Kompresor Semi Hermatik

Kompresor hermatik
Hampir sama dengan kompresor semi hermatik. Perbedaannya hanya terletak pada penyambungan rumah (baja) kompresor dengan stator motor penggeraknya. Pada kompresor hermatik dipergunakan sambungan las sehingga udara tertutup rapat seperti terlihat pada gambar di bawah ini. Sedangkan pada kompresor semi harmatik rumah terbuat dari besi tuang,
bagian-bagian penutup dan penyambungannya masih bisa dibuka. Kompresor hermatik dibuat untuk unit kapasitas rendah, sampai 7,5 kW (Aris Munandar, 1992)
Gambar 2.12 Kompresor Putar Hermatik

2.10 Kondensor
Kondensor merupakan bagian dari mesin pendingin yang berfungsi untuk membuang panas dari uap regrigeran. Proses pembuangan panas dari kondensor terjadi karena adanya penurunan refrigeran dari kondisi uap lewat jenuh menuju ke uap jenuh, kemudian terjadi proses perubahan fasa refrigeran yaitu dari fasa uap menjadi fasa cair. Untuk mencairkan uap refrigeran yang bertekanan dan bertemperatur tinggi, diperlukan usaha melepaskan panas sebanyak panas laten pengembunan dengan cara mendinginkan uap refrigeran kepada media pendingin. Jumlah panas yang dilepas di dalam kondensor sama dengan jumlah panas yang diserap refrigeran di dalam evaporator dan panas ekivalen dengan energi yang diperlukan untuk melakukan kerja kompresi.
2.10.1 Jenis-Jenis Kondensor
1. Kondensor Tabung dan Pipa Horisontal 
Kondensor tabung dan pipa banyak digunakan pada unit kondensor berukuran kecil sampai besar, unit pendingin air dan penyegar udara paket baik untuk amonia maupun untuk freon.
Seperti pada gambar 2.12 di dalam kondensor tabung dan pipa terdapat banyak pipa pendingin, dimana air pendingin mengalir dalm pipa tersebut. Ujung dan pangkal pipa tersebut terkait dengan plat pipa, sedangkan diantara plat pipa dan tutup tabung dipsang sekat-sekat, untuk membagi aliran yang melewati pipa-pipa tersebut tetapi juga untuk mengatur agar kecepatannya cukup tinggi 1 sampai 2 m/detik  (Aris munandar, 1981).

Gambar 2.13 Kondensor Tabung dan Pipa Bersirip Horisontal
Air pendingin masuk kondensor dari bagian bawah, kemudian masuk ke dalam pipa pendingin dan keluar pada bagian atas. Jumlah saluran air yang terbentuk oleh sekat-sekat itu dinamai jumlah saluran. Jumlah saluran maksimum yang dipakai adalah 12. Tahanan aliaran air pendingin dalam pipa bertambah besar dengan banyaknya jumlah saluran. 
Ciri-ciri kondensor tabung dan pipa adalah sebagai berikut:
1.  Dapat dibuat dengan pipa pendingin bersirip, sehingga relatif berukuran lebih kecil dan ringan.
2. Pipa air dapat dibuat dengan lebih mudah.
3. Bentuknya sederhana (horisontal) dan mudah pemasangannya.
4. Pipa pendingin mudah dibersihkan.
2. Kondensor Tabung dan Koil
Kondensor tabung dan koil banyak digunakan pada unit dengan freon sebagai refrigeran berkapasitas relatif  kecil, misalnya pada penyegar udara jenis paket, pendinigin air dan sebagainya, pada gambar 2.13  digambarkan kondensor tabung dan koil dengan koil pipa pendingin didalam tabung yang dipasang pada posisi vertikal koil pipa pendingin tersebut biasanya terbuat dari tembaga, tanpa sirip atau dengan sirip, pipa tersebut mudah dibuat dan murah harganya.  
Pada kondensor tabung dan koil, air mengalir di dalam pipa pendingin. Endapan dan kerak yang terbentuk di dalam pipa harus dibersihkan dengan menggunakan zat kimia (deterjen).
Ciri-ciri  kondensor tabung dan koil adalah sebagai berikut :
1.Harganya murah karena mudah pembuatannya.
2.Kompak karena posisi yang vertikal dan pemasangannnya yang mudah.
3.Boleh dikatakan tidak mungkin diganti pipa pendingin, sedangkan pembersihannya harus dihilangkan dengan deterjen.
Gambar 2.14 Kondensor tabung dan koil
3. Kondensor dengan pendingin udara
Kondensor pendingin udara terdiri dari koil pipa pendingin bersirip  pelat (pipa tembaga dan sirip aluminium atau pipa tembaga dengan sirip tembaga). Udara mengalir dengan arah yang tegak lurus dengan pada bidang  pendingin. Gas refrigeran yang bertemperatur tinggi masuk ke bagian atas dari koil dan secara berangsur-angsur mencair dalam aliran ke bagian bawah koil.
Gambar 2.15 Kondensor dengan Pendingin Udara
Ciri-ciri kondensor pendingin udara adalah sebagai berikut:
1. Tidak memerlukan pipa air pendingin, pompa air dan penampung air, karena tidak menggunakan air.
2. Dapat dipasang dimana saja asal terdapat udara bebas.
3. Tidak mudah terjadi korosi karena permukaan koil kering.
4. Memerlukan pipa refrigeran tekanan tinggi yang panjang karena kondensor biasanya diletakan diluar rumah.
5. Pada musim dingin, tekanan pengembunan perlu dikontrol untuk mengatasi gangguan yang dapat terjadi karena turunnya tekanan pengembunan yang terlalu besar, yang disebabkan oleh temperatur udara atmosfir yang rendah.

2.8.1 Perpindahan panas
Perpidahan panas dalam kondensor sama dengan perpindahan kalor yang terjadi dalam evaporator.

2.8.2 Perbedaan temperatur rata-rata log (LMTD) 
Di dalam kondensor, banyaknya perpindahan kalor dihitung berdasarkan perbedaan temperatur logaritmik. Hal tersebut dilukiskan pada gambar di bawah ini. Makin besar perbedaan temperatur rata-rata, makin kecil ukuran penukar kalor (luas bidang perpindahan kalor) yang bersangkutan.
2.9 Jenis-jenis alat ekspansi
1. Katup ekspansi
Komponen utama yang lain untuk mesin refrigerasi adalah katup ekspansi. Katup ekspansi ini dipergunakan untuk menurunkan tekanan dan untuk mengekspansikan secara adiabatik cairan yang bertekan dan bertemperatur tinggi sampai mencapai tingkat tekanan dan temperatur rendah, atau mengekspansikan refrigeran cair dari tekanan kondensasi ke tekanan evaporasi, refrigeran cair diinjeksikan keluar melalui oriffice, refrigeran segera berubah menjadi kabut yang tekanan dan teperaturnya rendah. Selain itu, katup ini juga sebagai alat konrol refrigerasi yang berfungsi :
Mengatur jumlah refrigeran yang mengalir dari pipa cair menuju evaporator sesuai dengan laju penguapan pada evaporator.
Mempertahankan perbedaan tekanan antara kondensor dan evaporator agar penguapan pada evaporator berlangsung pada tekanan kerjanya.

2. Pipa kapiler
Pipa kapiler adalah salah satu alat ekspansi. Alat ekspansi ini mempunyai dua kegunaan yaitu untuk menurunkan tekanan refrigeran cair dan untuk mengatur aliran refrigeran ke evaporator. Cairan refrigeran memasuki pipa kapiler tersebut dan mengalir sehingga tekanannya berkurang akibat dari gesekan dan percepatan refrigeran. Pipa kapiler hampir melayani semua sistem refrigerasi yang berukuran kecil, dan penggunaannya meluas hingga pada kapasitas regrigerasi 10kW. Pipa kapiler mempunyai ukuran panjang 1 hingga 6 meter, dengan diameter dalam 0,5 sampai 2 mm (Stoecker, 1996). Diameter dan panjang pipa kapiler ditetapkan berdasarkan kapasitas pendinginan, kondisi operasi dan jumlah refrigeran dari mesin refrigerasi yang bersangkutan.
Konstruksi pipa kapilar sangat sederhana, sehingga jarang terjadi gangguan. Pada waktu kompresor berhenti bekerja, pipa kapiler menghubungkan bagian tekanan tinggi dengan bagian tekanan rendah, sehingga menyamakan tekanannya dan memudahkan start berikutnya.
Gambar 2.17 Pipa kapiler
Keuntungan sistem refrigerasi menggunakan pipa kapiler :
1) Harga pipa kapiler murah. 
2) Saat refrigeran masuk ke dalam sistem pipa kapiler, maka tekanan refrigeran    akan menjadi kritis, sehingga tidak memerlukan receiver.   
3) Jarang terjadi gangguan. Pada waktu kompresor berhenti bekerja, pipa kapiler menghubungkan bagian tekanan tinggi dengan bagian tekanan rendah, sehingga menyamakan tekanannya.

2.11 Beban pendinginan
Perhitungan beban pendinginan merupakan hal yang utama dalam perancangan sistem pengkondisian udara. Hasil perhitungan tersebut nantinya dapat menentukan berapa besar kapasitas mesin refrigerasi yang dibutuhkan agar mampu mengkondisikan udara di dalam suatu ruangan sehingga terasa nyaman.
Perhitungan beban pendinginan yang akurat akan berpengaruh terhadap optimasi dimensi mesin refrigerasi yang direncanakan. Beban pendinginan dibagi menjadi dua yaitu beban pendinginan sensibel dan beban pendinginan laten Dalam perhitungan ini dipakai perhitungan-perhitungan panas baik secara konduksi, konveksi maupun radiasi. Beban pendinginan sensibel akan berpengaruh terhadap naiknya temperatur, beban sensibel dapat disebabkan oleh sinar matahari, transmisi, lampu penghuni, infiltrasi. Sedangkan beban laten akan berpengaruh terhadap kelembaban udara. Beban ini dapat disebabkan infiltrasi, ventilasi, penghuni dan lain sebagainya.

Read more

ABSTRAK

Terorisme merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban serta merupakan salah satu ancaman serius terhadap kedaulatan setiap Negara. Upaya penanggulangan tindak pidana terorisme diwujudkan pemerintah dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2002, yang kemudian disetujui oleh DPR menjadi Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Diperlukannya undang-undang ini karena pemerintah menyadari tindak pidana terorisme merupakan suatu tindak pidana yang luar biasa (extraordinary crime), sehingga membutuhkan penanganan yang luar biasa juga (extraordinary measures). Dalam beberapa kasus, penguasaan terhadap teknologi sering kali disalahgunakan untuk melakukan suatu kejahatan. Diantara ragam kejahatan menggunakan teknologi, terdapat didalamnya suatu bentuk kejahatan terorisme baru, yaitu cyberterrorism. Penanganan Cyberterrorism berbeda dengan penanganan terorisme konvensional. Salah satu perbedaannya adalah penggunaan alat bukti berupa informasi elektronik. Bagaimana pengaturan penggunaan alat bukti berupa informasi elektronik dalam Hukum Acara Pidana di Indonesia? Dapatkah sebuah kode sumber website dijadikan alat bukti di persidangan Tindak Pidana Terorisme? Bagaimana dalam prakteknya penerapan ketentuan Hukum Acara Pidana Terhadap Informasi Elektronik (Source Code Website) di dalam Peristiwa Tindak Pidana Terorisme pada Kasus Website Anshar.net? Penggunaan alat bukti berupa informasi elektronik telah diakomodir oleh Pasal 27 Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Terkait hal tersebut diperlukan adanya Standar Operasional Prosedur dalam perolehan alat bukti berupa informasi elektronik tersebut.


DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Ucapan Terima Kasih
Daftar Isi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang1
B. Pokok Masalah13
C. Tujuan Penelitian14
D. Definisi Operasional15
E. Metode Penelitian19
F. Sistematika Penulisan21
BAB II
TINJAUAN UMUM TINDAK PIDANA TERORISME BAIK SEGI MATERIL MAUPUN FORMIL
A.Pengertian dan Karakteristik OrganisasiTerorisme23
1. Pengeritan Terorisme24
2. Karakteristik Organisasi Terorisme35
B.Terorisme di Indonesia dalam Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 dan dalam Ketentuan Dibeberapa Negara Lainnya40
1.Terorisme di Indonesia dan Pengaturannya dalam Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003  41
2.Perumusan Tindak Pidana Terorisme di Beberapa Negara Lainnya 64
a.Australia
b.Amerika

C. Terorisme dan Perkembangannya 69
1.Cyberterrorism: Suatu Perkembangan dari Terorisme75
2.Definisi dan Karakteristik Cyberterrorisme70
3.Bentuk dan Macam Cyberterrorism 85

D. Proses Penyelidikan, Penyidikan, dan Upaya Paksa Penangkapan, Penahanan, dan Penggeledahan dalam Tindak Pidana Terorisme 90
1. Penyelidikan 92
2. Penyidikan 96
3. Upaya Paksa: Penangkapan, Penahanan, Penggeledahan, dan Penyitaan 101
E. Sistem Pembuktian, Beban Pembuktian, Alat Bukti Dalam Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Tindak Pidana Terorisme 114
1. Sistem Pembuktian 116
2. Beban Pembuktian 120
3. Alat Bukti Dalam Tindak Pidana Terorisme dan Undang-undang Lain yang Mengatur Penggunaan Bukti Digital 124

BAB III KODE SUMBER WEBSITESEBAGAI ALAT BUKTI BERUPA INFORMASI DAN DOKUMEN ELEKTRONIK 127
A. Aspek Pengembangan Teknologi World Wide Web127
1. Hypertext Markup Language (HTML): Standardiasi Penulisan Bahasa Web 135
2. HyperText Transfer Protocol (HTTP): Protokol Primer Sebuah Website. 144
B. Bukti Digital (Digital Evidence) 155
1. Pengertian Bukti Digital (Digital Evidence) 157
2. Standard Operating Procedures (SOPs) Terkait Bukti Digital 160
3. Perolehan Informasi Terkait Bukti Digital Pada Sebuah WebsiteMenggunakan Teknik Internet Forensic 166
4. Otentifikasi Bukti Digital Melalui Teknik Enkripsi 179

BAB IV ANALISIS ALAT BUKTI DALAM KASUS CYBER TERROISM (WEBSITE ANSHAR.NET)
198
A. Kasus Posisi 198
B. Analisis Alat Bukti Pada Kasus Anshar.net Berdasarkan Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 206
1. Keterangan Saksi 209
2. Keterangan Ahli 220
3. Surat 231
4. Petunjuk 233
5. Keterangan Terdakwa 235
C. Penggunaan Alat Bukti Informasi Elektronik Berupa Kode Sumber Website 239

xxx Sebagai Alat Bukti dalam Tindak Pidana Terorisme
1. Unsur Tindak Pidana Terorisme dalam Kasus Website Anshar.net 240
2. Penggunaan Kode Sumber WebsiteSebagai Alat Bukti Sebagaimana Diatur dalam Pasal 27 Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 248
3. Penggunaan Alat Bukti Berupa Informasi Elektronik Terkait Penyelenggaraan Sistem Elektronik Berdasarkan Rancangan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik 263

BAB V
PENUTUP 269
A. Simpulan 269
B. Saran 277
DAFTAR PUSTAKA 281

BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Hak untuk hidup adalah hak asasi yang paling dasar bagi seluruh manusia. Hak hidup merupakan bagian dari hak asasi yang memiliki sifat tidak dapat ditawar lagi (non derogable rights).1 Artinya, hak ini mutlak harus dimiliki setiap orang, karena tanpa adanya hak untuk hidup, maka tidak ada hak-hak asasi lainnya. Hak tersebut juga menandakan setiap orang memiliki hak untuk hidup dan tidak ada orang lain yang berhak untuk mengambil hak hidupnya.
Dalam hal ini terdapat beberapa pengecualian seperti untuk tujuan penegakan hukum, sebagaimana yang diatur juga dalam Article 2 European Convention on Human Rights yang menyatakan:
1 I Sriyanto dan Desiree Zuraida, Modul Instrumen HAM Nasional: Hak Untuk Hidup, Hak Berkeluarga dan Melanjutkan Keturunan Serta Hak Mengembangkan Diri (Jakarta: Departemen Hukum dan HAM RI, Direktorat Jenderal Perlindungan HAM, 2001) hal. 1


protection the right of every person to their life. The article contains exceptions for the cases of lawful executions, and deaths as a result of "the use of force which is no more than absolutely necessary" in defending one's self or others, arresting a suspect or fugitive, and suppressing riots or insurrections.2
Pengecualian terhadap penghilangan hak hidup tidak mencakup pada penghilangan hak hidup seseorang oleh orang lainnya tanpa ada alas hak yang berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Salah satu contoh penghilangan hak hidup tanpa alas hak adalah pembunuhan melalui aksi teror. Aksi teror jelas telah melecehkan nilai kemanusiaan, martabat, dan norma agama. Teror juga telah menunjukan gerakannya sebagai tragedi atas hak asasi manusia.3
Terorisme merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban serta merupakan salah satu ancaman serius terhadap kedaulatan setiap negara karena terorisme sudah merupakan kejahatan yang bersifat internasional yang menimbulkan bahaya terhadap keamanan, perdamaian dunia
2 European Convention on Human Rights, <http://en.wikipedia.org/ European_Convention_on_Human_Rights_files>, diakses 26 Desember 2006.
3 Abdul Wahid, Sunardi, Muhamad Imam Sidik, Kejahatan Terorisme: Perspektif Agama, HAM dan Hukum (Bandung: PT. Refika Aditama, 2004), hal. 2.

serta merugikan kesejahteraan masyarakat sehingga perlu dilakukan pemberantasan secara berencana dan berkesinambungan sehingga hak asasi orang banyak dapat dilindungi dan dijunjung tinggi.4 Pernyataan tersebut sejalan dengan tujuan bangsa Indonesia yang termaktub dalam Undang-undang Dasar 1945 yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.5
Aksi terorisme di Indonesia mencuat ke permukaan setelah terjadinya Bom Bali I pada 12 Oktober 2002, Peristiwa ini tepatnya terjadi di Sari Club dan Peddy’s Club, Kuta, Bali. Sebelumnya, tercatat juga beberapa aksi teror di Indonesia antara lain kasus Bom Istiqlal pada 19 April 1999, Bom Malam Natal pada 24 Desember 2000 yang terjadi di dua puluh tiga gereja, Bom di Bursa Efek Jakarta pada September 2000, serta penyanderaan dan pendudukan
4 Indonesia, Undang-undang Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Menjadi Undang-undang, UU No. 15, LN. No. 45 Tahun 2003, TLN. No. 4284, Penjelasan umum Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme paragraf dua.(a)
5 Indonesia, Undang-undang Dasar 1945, Pembukaan Alinea ke-4.

Perusahaan Mobil Oil oleh Gerakan Aceh Merdeka pada tahun yang sama.
Kembali pada kasus Bom Bali I. Aksi teror melalui peledakan bom mobil di Jalan Raya Legian Kuta ini semula direncanakan dilaksanakan pada 11 September 2002, bertepatan dengan peringatan setahun tragedi di Gedung World Trade Center New York, Amerika Serikat. Seperti diketahui, peristiwa 11 September 2002 ini mengawali “Perang Global” terhadap terorisme yang dipimpin oleh Amerika Serikat. Kebijakan Amerika Serikat yang berat sebelah seperti pemunculan jargon “Jihad adalah Terorisme” dalam memerangi terorisme telah menjadi alasan beberapa kelompok teroris untuk melakukan perlawanan, salah satunya dilakukan oleh Ali Imron, Ali Gufron, dan Amrozi.6
Indonesia sebagai negara hukum (rechtstaat) memiliki kewajiban untuk melindungi harkat dan martabat manusia. Demikian pula dalam hal perlindungan warga negara dari tindakan terorisme. Salah satu bentuk perlindungan negara terhadap warganya dari tindakan atau aksi terorisme adalah
6 “Bom Bali Rencananya untuk Peringati Setahun Bom WTC”, <http://www.kompas.com/kompas-cetak/0308/22/nasional/505322.htm>, diakses 7 Februari 2007.

melalui penegakan hukum, termasuk di dalamnya upaya menciptakan produk hukum yang sesuai.
Upaya ini diwujudkan pemerintah dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2002, yang kemudian disetujui oleh DPR menjadi Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Diperlukannya undang-undang ini karena pemerintah menyadari tindak pidana terorisme merupakan suatu tindak pidana yang luar biasa (extraordinary crime), sehingga membutuhkan penanganan yang luar biasa juga (extraordinary measures).7 Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 ini selain mengatur aspek materil juga mengatur aspek formil. Sehingga, undang-undang ini merupakan undang-undang khusus (lex specialis) dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana dan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. Dengan adanya undang-undang ini diharapkan penyelesaian perkara pidana yang terkait dengan terorisme dari aspek materil maupun formil dapat segera dilakukan.
7 T. Nasrullah, Sepintas Tinjauan Yuridis Baik Aspek Hukum Materil Maupun Formil Terhadap Undang-undang No. 15/2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Makalah Pada Semiloka tentang “Keamanan Negara” yang diadakan oleh Indonesia Police Watch bersama Polda Metropolitan Jakarta Raya, Selasa 29 Maret, hal. 3.

Pada sebuah proses penyelesaian perkara pidana, proses pembuktian merupakan suatu proses pencarian kebenaran materiil atas suatu peristiwa pidana. Hal ini berbeda jika dibandingkan proses penyelesaian perkara perdata yang merupakan proses pencarian kebenaran formil. Proses pembuktian sendiri merupakan bagian terpenting dari keseluruhan proses pemeriksaan persidangan.
Hukum acara pidana di dalam bidang pembuktian mengenal adanya Alat Bukti dan Barang Bukti, di mana keduanya dipergunakan di dalam persidangan untuk membuktikan tindak pidana yang didakwakan terhadap terdakwa. Alat bukti yang sah untuk diajukan di depan persidangan, seperti yang diatur Pasal 184 Undang-undang Nomor 8 tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP)8 adalah:
a.
keterangan saksi
b.
keterangan ahli
c.
surat
d.
petunjuk
e.
keterangan terdakwa
8 Indonesia, Undang-Undang Tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP), UU No. 8, LN. No. 76 Tahun 1981, TLN. 3209, ps 184. (b)

Pada perkembangannya, alat bukti sebagaimana yang diatur dalam KUHAP tidak lagi dapat mengakomodir perkembangan teknologi informasi, hal ini menimbulkan permasalahan baru. Salah satu masalah yang muncul akibat perkembangan teknologi informasi adalah lahirnya suatu bentuk kejahatan baru yang sering disebut dengan cybercrime, dalam istilah yang digunakan oleh Barda Nawawi Arief disebut dengan tindak pidana mayantara.9 Secara garis besar cybercrime terdiri dari dua jenis, yaitu kejahatan yang menggunakan teknologi informasi (TI) sebagai fasilitas dan kejahatan yang menjadikan sistem dan fasilitas TI sebagai sasaran.10
Perkembangan teknologi dan perkembangan hukum telah menyebabkan tergesernya bentuk media cetak menjadi bentuk media digital (paper less). Perlu diperhatikan dalam kejahatan dengan menggunakan komputer, bukti yang akan mengarahkan suatu peristiwa pidana adalah berupa data elektronik, baik yang berada di dalam komputer itu sendiri
9 Abdul Wahid, dan Muhammad Labib, Kejahatan Mayantara (Cybercrime), (Bandung: PT. Rafika Aditama 2005), hal. 26.
10 Arif Pitoyo, ”Perlunya Penyempurnaan Hukum Pidana Tangani Cybercrime”,<http://gerbang.jabar.go.id/gerbang/index.php?index=16&idberita=680>, diakses 22 Januari 2007.
(hardisk/floppy disc) atau yang merupakan hasil print out, atau dalam bentuk lain berupa jejak (path) dari suatu aktivitas pengguna komputer.11
Tentu saja upaya penegakan hukum tidak boleh terhenti dengan ketidakadaan hukum yang mengatur penggunaan barang bukti maupun alat bukti berupa informasi elektronik di dalam penyelesaian suatu peristiwa hukum. Selain itu, proses mengajukan dan proses pembuktian alat bukti yang berupa data digital perlu pembahasan tersendiri mengingat alat bukti dalam bentuk informasi elektronik ini serta berkas acara pemeriksaan telah melalui proses digitalisasi dengan proses pengetikan (typing), pemeriksaan (editing), dan penyimpanan (storing) dengan menggunakan komputer. Namun, hasilnya tetap saja dicetak di atas kertas (printing process). Dengan demikian, diperlukan kejelasan bagaimana mengajukan dan melakukan proses pembuktian terhadap alat bukti yang berupa data digital.
Proses pembuktian suatu alat bukti yang berupa data digital ini juga menyangkut aspek validasi data digital yang dijadikan alat bukti tersebut. Aspek lain terkait
11 Edmom Makarim, Pengantar Hukum Telematika: Suatu Kompilasi Kajian (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2005) hal. 455.

adalah masalah menghadirkan alat bukti tersebut, apakah dihadirkan cukup dengan perangkat lunaknya (software) ataukah harus dengan perangkat kerasnya (hardware).
Sebagaimana telah dijelaskan terlebih dahulu, bukti digital tidak dikenal dalam Hukum Acara Pidana Umum (KUHAP). Namun, untuk beberapa perbuatan hukum tertentu, bukti digital dikenal dan pengaturannya tersebar pada beberapa peraturan perundang-undangan seperti Undang-undang Tentang Dokumen Perusahaan, Undang-undang Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, Undang-undang Tentang Kearsipan, Undang-undang Tentang Tindak Pidana Korupsi, dan Undang-undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang menjadi fokus penulisan ini.
Sebagai lex specialis, Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 memiliki kekhususan secara formil dibandingkan KUHAP. Salah satu kekhususan tersebut yang menjadi fokus dalam penulisan ini adalah terkait penggunaan alat bukti yang merupakan pembaharuan proses pembuktian konvensional dalam KUHAP. Pengaturan mengenai alat bukti pada Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tersebut terlihat dalam Pasal 27, yaitu sebagai berikut.

Alat bukti pemeriksaan tindak pidana terorisme meliputi:
1.
alat bukti sebagaimana dimaksud dalam Hukum Acara Pidana;
2.
alat bukti lain berupa informasi yang diucapkan, dikirimkan, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu; dan
3.
data, rekaman, atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau didengar, yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang di atas kertas, benda fisik apapun selain kertas, atau yang terekam secara elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada :
1)
tulisan, suara, atau gambar;
2)
peta, rancangan, foto, atau sejenisnya;
3)
huruf, tanda, angka, simbol, atau perforasi yang memiliki makna atau dapat dipahami oleh orang yang mampu membaca atau memahaminya.12
Alat bukti yang diatur dalam Pasal 27 ayat (2) dan (3) Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tersebut berdasarkan KUHAP tidak diakui sebagai alat bukti, tetapi berdasarkan doktrin (ilmu hukum) dikategorikan sebagai Barang Bukti yang berfungsi sebagai data penunjang bagi alat bukti.13 Akan tetapi dengan adanya Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 ini, kedua alat bukti tersebut dapat digunakan sebagai alat bukti yang sah dan mengikat serta memiliki kekuatan pembuktian sama dengan alat bukti yang diatur dalam KUHAP.
12 Indonesia (a), op. cit., ps. 27.
13 Nasrullah, op. cit., hal. 16.

Meskipun demikian, prinsip lex specialis derogat legi generalis tetap berlaku. Dengan penafsiran secara a contrario, dapat diartikan hal yang tidak diatur dalam ketentuan khusus, dalam hal ini Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003, berlakulah ketentuan umum, dalam hal ini KUHAP.
Penelitian ini bertolak dari permasalahan penggunaan bukti digital (digital evidence) sebagai alat bukti tindak pidana terorisme di Indonesia. Objek dari penelitian ini adalah Source Code atau Kode Sumber sebuah website yang merupakan media informasi teroris, yaitu website Al-Anshar dengan alamat di http://www.anshar.net. Dipilihnya kode sumber sebagai objek penelitian dikarenakan kode sumber adalah tampilan yang paling orisinal dari sebuah website. Segala tampilan yang ramah pengguna atau user friendly interface dari sebuah website dibangun dari baris kalimat pada kode sumber website tersebut. Sehingga apabila tampilan dari suatu website mengandung substansi yang merupakan upaya terorisme, maka harus dilihat dari kode sumber website tersebut. Selain itu, dari website tersebut kode sumber lah yang paling mungkin dijadikan alat bukti.
Situs www.anshar.net yang diduga dibuat oleh Agung Setyadi, dosen salah satu perguruan tinggi di Semarang, dan

M. Agung Prabowo Max Fiderman alias Kalingga alias Maxhaser, mahasiswa salah satu universitas di kota itu, dipakai untuk menyampaikan informasi terorisme atas pesanan Noordin M. Top sebagai media informasi perjuangannya.14
Isi dari informasi para teroris itu seputar materi-materi Tauziah Syaikh Mukhlas, Tauhid, Jihad, Wacana, Islamiah dan Askariah. Antara lain mengajarkan penyerangan dengan cara memanfaatkan antrean di jalan atau pintu masuk masuk atau keluar kantor, pusat perbelanjaan, hiburan, olahraga, hotel dan tempat pameran. Sejumlah lokasi, seperti Ancol, Planet Hollywood dan Jakarta Hilton Convention Center (JHCC) serta Senayan Golf Driving Range.15
Kasus tersebut saat ini tengah dalam proses persidangan di Pengadilan Negeri Semarang dengan Nomor Perkara 84/PID/B/2007 PN SMG. Hingga saat penelitian ini disusun, kasus tersebut telah mencapai tahap pembelaan (pledoi).
14 “Pengacara TPM Dampingi Tersangka Pembuat Laman www.anshar.net”, <http://www.antara.co.id/news>, diakses 1 November 2006.
15 “Lewat Internet, Imam Samudera Rancang Pemboman,” http://www.e-biskom.com, diakses 1 November 2006.

Untuk selanjutnya, pembahasan penelitian ini akan menjelaskan bagaimana kode sumber dari sebuah website dapat dijadikan alat bukti. Penjelasan tersebut akan dikaitkan dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia yang memungkinkan penggunaan alat bukti digital dalam persidangan, khususnya Undang-undang Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Selain itu dari penelitian ini akan terlihat sikap aparat penegak hukum, khususnya hakim dalam mempergunakan alat bukti yang ada.
B.
Pokok Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, dapat diambil tiga pokok masalah, yaitu:
1.
Bagaimana pengaturan penggunaan alat bukti berupa informasi elektronik dalam Hukum Acara Pidana di Indonesia?
2.
Dapatkah sebuah kode sumber website dijadikan alat bukti di persidangan berdasarkan Pasal 27 Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme?

3.
Bagaimana dalam prakteknya penerapan ketentuan Hukum Acara Pidana Terhadap Informasi Elektronik (Source Code Website) di dalam Peristiwa Tindak Pidana Terorisme pada Kasus Website Anshar.net?
C.
Tujuan Penelitian
Tujuan penulisan ini dibagi menjadi dua, yaitu tujuan penulisan secara umum dan tujuan penulisan secara khusus, adapun tujuannya sebagai berikut.
1. Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian ini adalah memberikan gambaran penggunaan informasi elektronik sebagai alat bukti dalam acara pembuktian pada Hukum Acara Pidana di Indonesia. Hal ini untuk mengakomodir semakin canggihnya tindak pidana yang menggunakan teknologi informasi, seperti cyberterrorism.

2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus penelitian ini adalah sebagai berikut.
a.
Mengetahui pengaturan penggunaan bukti digital dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia, khususnya undang-undang terkait hukum pidana.
b.
Mengetahui bagaimana sebuah kode sumber dijadikan alat bukti dalam tindak pidana terorisme berdasarkan Pasal 27 Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.
c.
Mengetahui penerapan bukti digital di dalam praktek persidangan terkait kasus website www.anshar.net.
D.
Definisi Operasional
Dalam penulisan penelitian Kode Sumber (Source Code) Website Sebagai Alat Bukti di dalam Tindak Pidana Terorisme di Indonesia (Studi Kasus terhadap Website Al-Anshar.net) ini akan banyak digunakan istilah dalam bidang hukum dan bidang komputer. Untuk menghindari kesimpangsiuran pengertian mengenai istilah yang dipakai dalam penulisan

ini, berikut dijelaskan definisi operasional dari istilah tersebut:
Kode Sumber (Source Code) adalah:
The nonmachine language used by a computer programmer to create a program.16 Source code (commonly just source or code) is any series of statements written in some human-readable computer programming language.17
Terjemahan bebasnya adalah: Bahasa non-mesin yang digunakan oleh programer untuk menyusun suatu program. Kode sumber adalah serangkaian pernyataan yang ditulis dalam bahasa program yang dipahami manusia.
Website adalah:
A website (or Web site) is a collection of web pages. A web page is a document, typically written in HTML, that is almost always accessible via HTTP, a protocol
16 Bryan A. Graner, Black’s Law Dictionary Eighth Edition (St. Paul: West Thomson, 2004).
17 Wikipedia Online Encyclopedia, “Definiton of Source Code,” <http://en.wikipedia.org/wiki/Source_code>, diakses 23 Desember 2006.

that transfers information from the website's server to display in the user's web browser.18
Terjemahan bebasnya adalah. Website (atau Web Site) sebuah kumpulan dari halaman web. Halaman web adalah sebuah dokumen yang biasanya ditulis dalam Hyper Text Markup Language (HTML) yang dapat diakses melalui protokol Hyper Text Transfer Protocol (HTTP) yang merupakan protokol untuk menyampaikan informasi dari sebuah pusat website untuk ditampilkan dihadapan pengguna program pembaca website.
Terorisme adalah: The use or threat of violance to intimidate or cause panic, esp. as a means of affecting political conduct.19 Terjemahan bebasnya adalah, penggunaan atau upaya kekerasan untuk mengintimidasi atau menyebabkan kepanikan, khususnya dengan membawa dampak politik.
18 Retrieved from <http://en.wikipedia.org/wiki/Website>, diakses 23 Desember 2006.
19 Graner, op. cit.

Tindak Pidana Terorisme adalah, segala perbuatan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini.20
Bukti Digital adalah:
bukti yang di dapat dari kejahatan yang menggunakan komputer untuk mengarahkan suatu peristiwa pidana berupa data-data elektronik baik yang berada di dalam komputer itu sendiri (hard disk/floopy disk) atau yang merupakan hasil print out, atau dalam bentuk lain berupa jejak (path) dari suatu aktivitas penggunaan komputer.21
Informasi Elektronik adalah:
Informasi elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik diantaranya meliputi teks, simbol, gambar, tanda-tanda, isyarat, tulisan, suara, bunyi, dan bentuk-bentuk lainnya yang telah diolah sehingga mempunyai arti.22
Alat bukti adalah alat bukti yang terdapat dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP yaitu keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa.23
20 Indonesia (a), op. cit., ps. 1 ayat (1).
21 Edmom Makarim, Pengantar Hukum Telematika: Suatu Kompilasi Kajian (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2005), hal. 455.
22 Indonesia (c), Rancangan Undang-undang Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, ps. 1 angka 3.
23 Indonesia (b), op. cit., ps. 184 ayat (1).

Pembuktian adalah:
ketentuan-ketentuan yang berisi penggarisan dan pedoman tentang tata cara yang dibenarkan undang-undang untuk membuktikan kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa.24
Hukum Pidana adalah:
keseluruhan dari peraturan-peraturan yang menentukan perbuatan-perbuatan apa yang dilarang dan barangsiapa yang melanggar peraturan-peraturan itu diancam dengan suatu sanksi berupa pidana.25
E.
Metode Penelitian
Penelitian merupakan penelitian yang berdasarkan studi kepustakaan yang bersifat yuridis-normatif, artinya penelitian hanya dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder yang bersifat hukum.26 Oleh
24 M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) Jilid II. Jakarta: Pustaka Kartini, 1988., op. cit., hal. 793.
25 Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia Edisi Revisi (Jakarta: Sinar Grafika, 2001), hal. 53
26 Sri Mamudji et al. Metode Penelitian dan Penulisan Hukum, (Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2005), hal. 4-5.

karena itu, data yang digunakan adalah data sekunder yang didapatkan melalui studi dokumen.
Berkaitan dengan data yang digunakan, bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini meliputi bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Bahan hukum primer yang digunakan, peraturan perundang-undangan seperti Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana, dan Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Selanjutnya, bahan hukum sekunder yang merupakan bahan hukum yang paling banyak digunakan dalam penelitian ini, meliputi buku, artikel ilmiah, jurnal online dari Pusat Data West Law, dan makalah terkait. Bahan hukum tersier yang digunakan antara lain kamus Hukum Black’s Law Dictionary dan ensiklopedia online, antara lain wikipedia dan Encarta.
Tipologi penelitian yang digunakan dalam pembuatan laporan penelitian ini adalah penelitian berfokus masalah, yaitu suatu penelitian yang mengaitkan penelitian murni dengan penelitian terapan.27 Dalam penelitian ini dijelaskan mengenai dasar teori pembuktian dan teori alat bukti sebagai ilmu murni dari hukum acara pidana dikaitkan
27 Ibid.
20
dengan penerapan alat bukti berupa informasi elektronik dalam proses beracaranya. Penelitian ini juga merupakan penelitian yang dilakukan secara mono-disipliner, artinya laporan penelitian ini hanya didasarkan pada satu disiplin ilmu, yaitu ilmu hukum. Selanjutnya, metode analisis data yang digunakan adalah metode kualitatif.
F.
Sistematika Penulisan
Penelitian hukum ini terdiri dari lima bab. Pada bab pertama akan dijabarkan mengenai latar belakang dilakukannya penelitian, tiga pokok permasalahan dari penelitian, tujuan dari penelitian ini baik tujuan umum maupun tujuan khusus, kemudian dijelaskan pula mengenai kerangka konsepsional yang berisi definisi operasional dari istilah dalam penelitian ini, serta metode penelitian.
Pada bab kedua dari penelitian ini akan dijabarkan mengenai pengertian tindak pidana terorsime yang meliputi pembahasan mengenai unsur tindak pidana dan subjek dalam tindak pidana, kemudian membahas bagaimana penerapan perumusan unsur tindak pidana dan subjek pidana dalam Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003. Untuk memperkaya pembahasan, dalam bab ini juga akan dibahas bagaimana
21
pengaturan dan perumusan tindak pidana terorisme dibeberapa negara, antara lain di Australia dan Amerika Serikat. Pembahasan selanjutnya mengenai terorisme pada perkembangannya; mencakup pembahasan mengenai cyberterrorism serta terorisme berbasis teknologi informasi.
Sub bab terakhir dari bab dua ini adalah pembahasan hukum acara dalam Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003, yang meliputi pembahasan Proses Penyelidikan, Penyidikan, dan Upaya Paksa Penangkapan, Penahanan, Penggeledahan, dan Penyitaan dalam Tindak Pidana Terorisme. Dalam sub-bab ini juga dibahas mengenai beban pembuktian, sistem pembuktian, dan alat bukti yang digunakan dalam Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003.
Bab tiga penelitian ini memiliki fokus pada pembahasan teknis, yaitu pembahasan mengenai kode sumber, yang meliputi pembahasan mengenai macam bahasa pemerograman pada pembuatan website, pembahasan mengenai media penyimpanan (storage) sebuah website pada perusahaan webhosting (webhosting compay). Dalam bab ini juga akan dijabarkan mengenai bukti digital, yang akan menjelaskan definisi dari bukti digital, serta bagaimana cara melakukan otentifikasi
22
terhadap bukti digital. Selanjutnya, pembahasan terakhir pada bab tiga adalah mengenai kode sumber yang dijadikan bukti digital.
Bab empat berisi analisis mengenai alat bukti dalam tindak pidana terorisme terhadap penggunaan kode sumber sebagai alat bukti berupa informasi elektronik dalam kasus website alanshar.net. Pada bab ini akan dilihat bagaimana penerapan kode sumber sebagai alat bukti berupa informasi elektronik dalam tindak pidana terorisme dikuatkan oleh keterangan ahli, sebagai alat bukti, dan keterangan saksi dalam kaitan dengan alat bukti berupa informasi elektronik.
Bab lima merupakan bab terakhir dalam penulisan ini. Bab lima merupakan penutup penulisan yang berisi simpulan dari keseluruhan penelitian ini. Selain berisi simpulan, bab lima juga berisi saran yang diberikan oleh penulis terkait penyelesaian perakara pidana terorisme, khususnya terorisme yang melibatkan aspek Informasi Teknologi.

Read more

Contoh Skripsi Lainnya

Copyright 2010 @ contoh skripsi